zikrullah n doa

Jumat, 27 Juni 2014

๐Ÿ‘‰❤๐Ÿ‘‰ Our Story ๐Ÿ‘‰❤๐Ÿ‘ˆ

.:.Our Story Part 1.:.

Entah berapa kali aku mereplay lagu papinka malam hingga menjelang pagi ini,aku rasa tak terhitung sudah jumlahnya.lagu dengan judul "di mana hatimu" benar benar mewakili perasaanku saat ini.Begitu juga aliran bening yang masih saja merambah di pipiku yang menjadikan mataku bengkak dan menghitam di sekitarnya.
ya,sejak aku menggalkan mukenaku selepas pengaduanku semalam kepada RAAB-ku,aku memilih meninggalkan kamarku dan duduk di pojok taman belakang rumah.aku membiarkan tangisku pecah di antara deruan angin malam yang menyapa pohon pohon rindang dengan suara yang berdesir di sekitar tempat aku duduk,tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya jika malam itu aku sedang rapuh.
Rupanya semalam adalah malam yang tidak bersahabat denganku,malam yang menjemput kesunyian menjadi saksi bisu atas semua harapan dan penantianku beberapa tahun ini yang laksana butir butir peluru yang dengan tiba tiba menembus kepalaku yang memaksa menghancurkan pemikiran pemikiranku tentang kita saat itu juga.malam yang menjadi saksi atas betapa tak berdayanya aku yang harus menuruti ingin sekaligus keputusanmu.
Aku melumat sunyi malam seorang diri dan menyandarkan tubuhku di bangku tua memandang jauh ke langit.
pikiranku membawaku pada percakapan tiga hari yang lalu bersama rio yang menjadi awal dari perdebatan hingga akhirnya dia memilih kata koma dari kata kita.ya kita,aku dan dia.yang berarti jarak.



***


"assalamualaikum"
"walaikumsalam"terdengar suara datar tanpa semangat dari jawaban di seberang.
"baru pulang ya"tanyaku membuka percakapan
"iya"jawabnya lagi singkat,
selalu begitu jawaban yang ku peroleh.tak ada lagi tanya ulang darinya kepadaku sebagai rasa keingintahuannya tentang keadaanku seperti yang dulu dulu,jika sudah seperti itu aku hanya bisa menahan butiran airmata yg siap meluncur ke luar dan mengatur intonasi suaraku agar tidak terdengar bergetar menahan tangis.
Batinku berteriak"kenapa kau sekarang tak pernah mempertanyakan keadaanku ai,sudah hampir enam bulan sekarang kau mengacuhkanku".namun hati kecilku kembali memberi jawaban"dia sibuk dengan pekerjaanya sekarang,banyak sekali hal yang harus di pikirkannya jadi mengertilah karna kau tak bisa membantunya seperti yang beberapa hari sebelumnya pernah dia ucapkan"
dan kamipun saling bungkam,aku dengan pikiranku yang masih tentangnya dan dia...arghhh entahlah apa yang dia pikirkan setiap kali diam jika aku meneleponnya.mungkin dia memang benar benar malas mendengar suaraku seperti yang selalu dia ucapkan di setiap akhir perdebatan perdebatan kecil antara aku dan dia akhir akhir ini.
"kamu sedang apa"tanyaku lagi membuyarkan kebungkaman antara kami berdua.
"siap siap mau pulang,"
Dan aku diam tak bersuara mendengar jawabannya.
"kamu marah?"tanyanya menambahkan.
aku tak menjawab pertanyaannya hanya menghela nafas dalam entah dia mendengar atau tidak namun selepasnya dia berkata lagi "sulit ya menerima keadaanku yang seperti sekarang ini".
"maksudmu?"tanyaku memperjelas atas ucapannya.
hening sesaat tak ada lagi jawaban.
"Aku heran sama sikapmu sekarang ai,kamu tak seperti yang dulu lagi"tanyaku pelan berusaha tak membangkitkan emosi dia.
"perasaan kamu saja,tak ada yang berubah denganku" jawabnya ketus
"tidak,kamu sekarang berubah gak seperti dulu lagi,kamu dulu care sama aku sekarang menyapaku aja  kamu bilang tak ada waktu,padahal kamu bisa futsal sama teman teman kamu,kamu bilang capek tapi ada waktu buat futsal apakah menyapaku merupakan suatu pekerjaan yang berat?setiap kali aku telpon kamu bilang capek capek dan capek.kenapa buat temanmu kamu ada waktu tapi buatku tidak ada????cerocosku menumpahkan segala uneg uneg yang bertengger di benakku beberapa bulan terakhir ini.
"arghhh...aku udah malas,mau kamu apa?jangan muter muter ngomongnya.aku capek aku udah bener bener malas,ngomong mau kamu apa"jawabnya dengan suara keras dan ketus
"astaqfirullohaladzim ai...aku tanya baik baik kenapa kamu nyolot kayak gitu."
"sebenarnya aku ini apa kamu?kenapa kamu kasar banget ma aku,kamu dulu gak kayak gitu kenapa sekarang kamu seperti itu ai?"
"arghhhh udahlah kamu yang gak kenal aku ajja,aku sama dari dulu hingga sekarang ya kayak gini.kalau mau ya gini kalau gak ya terserah"jawab rio ketus seakan tanpa beban.
aku menghela nafas dalam mendengar ucapan rio seperti itu,tak terasa bulir bening tak mampu ku tahan lagi.aku terisak dalam diamku dan menutup ujung telepon dengan tanganku berharap dia tak mendengar suara tangisku.
"aku rasa bukan aku yang tak bisa mengenalimu,tapi kamu yang berubah ai,waktu tiga tahun lebih bukan waktu yang singkat untuk saling mengenal dalam sebuah hubungan bukan?tanyaku setelah aku mampu menguasai tangisku.atau kamu menyesal mengenalku setelah kau tahu keadaanku yang hanya gadis kampung setelah kau bertandang ke riumahku setahun setengah yang lalu?"
"tidak,aku gak bernah berfikir ke arah situ.mau kamu apa,ngomong jangan puter puter kemana mana kayak gini,ngomong aja"ucapnya lagi lagi dengan nada marah.
"udah udah jangan marah,aku gak mau apa apa.kontrol emosi kamu aku gak ingin darah tinggi kamu kambuh gara gara aku"tuturku berusaha meredam emosinya yang udah mulai meninggi.
"biarin toh kamu udah gak peduli lagi"
"kalau aku gak peduli ma kamu ngapain aku menghubungi kamu tiap hari?itu karna aku care ke kamu bukannya kayak kamu ke aku nyapa aja gak ma..."
"mau mulai lagi debatnya"potongnya kepadaku
"nggak nggak,kamu kapan pulang?"tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"gak tau,aku lapar"
"kalau lapar makan dulu baru pulang,hati hati di jalan..."
"iya"
"ya udah,udah malam siap siap aja dulu ntar keburu malam"
"iya"jawabnya sekali lagi.
aku menarik nafas dalam lalu mengucapkan salam padanya dan mematikan hp.


***


kekuatan hati akan sebuah tekad yang telah terpatri membuat lebih mudah menjalani perputaran hari,berat tak lagi sebuah kendala,waktu bukan lagi sebuah kelelahan hati.

"halo assalamualaikum..."
"halo assalamualaikum,dengar suaraku gak ai...?"dengan nada suara yang bahagia.
"iya dengar...alaikumsalam,lagi di mana rame amat..."tanyaku kepadanya
"lagi di luar makan ma teman teman"
"ooo,pantes berisik"ucapku pelan.
"gimana ai..."
"apanya..."
"nggak..."
"oh ya ai,aku dapat kiriman kado ultah dari orang yang kamu benci"ucapku pelan.
hening menyelimuti percakapanku dengannya.tak ada respon darinya.batinku bersorak girang "asyik dia pasti cemburu,dengan mendengar kenyataan ini dia pasti cemburu.aku kangen cemburumu ai,aku sangat kangen dengan ekspresimu saat cemburu seperti yang dulu dulu"bisik hati kecilku seorang diri.
"siapa"tanyanya kemudian
"agus"jawabku pelan
"apa kadonya?
"buku"
"bagus bukunya"
"bagus ai"
"ai ternyata statusmu benar ya"ucapnya tiba tiba
"status apa?"
"status di facebook,kepercayaan itu ibarat keperawanan:harus di jaga karna sekali hilang tak kan pernah kembali.ya seperti itu aku ke kamu.aku udah gak percaya lagi sama kamu.jadi selama ini kamu masih tetap berhubungan dengan dia dan kamu udah ngebohongin aku jadi lakukan aja apa yang kamu mau aku udah gak peduli lagi ma kamu"
"bukannya begitu ai..."
"udah kamu nikah aja ma dia"ucapnya ketus sembari mematikan telepon tanpa mau mendengarkan penjelasanku.
aku menarik nafas dalam sembari memandangi hpku yang berada di tanganku"kamu egois ai"bisikku seorang diri.nyeri kembali menyusup ke dadaku.lagi dan lagi aku menarik nafas dalam.
"kenapa kau tidak pernah mengakui bila kamu cemburu,bukankah sebenarnya itu yang ada di dalam pikiranmu,kamu egois ai terlalu egois untuk mengakui perasaan kamu sendiri"makiku seorang diri.
sesal menyeruak tiba tiba dalam hatiku.pancingan yang menginginkan cemburunya ternyata menjadi awal boomerang antara aku dan dia.
Aku tak mampu menahan rasa keingintahuanku alasan amarahnya,akupun mencoba kembali menghubunginya,
"kenapa sih kamu itu ai"tanyaku langsung tanpa basa basi
"maaf ini siapa ya,saya bukan rio"jawabnya dengan suara polos
"saya temannya,dia di mana?"tanyaku langsung tanpa basa basi juga
"dia lagi keluar mbak"
deg,aku kaget saat suara di sebrang berkata demikian.bukannya tadi rio bilang sedang di luar kenapa temannya jawab dia sekarang ke luar.aku langsung bisa menebak penerima telpon ini sedang berbohong.akupun meluncurkan berbagai pertanyaan ke dia secara bolak balik.
"bukannya dia tadi bilang dah di luar kok kamu bilang keluar lagi,kamu bohong ya"
"emmmmm maksudku ke toilet mbak"jawabnya blepotan seperti ada jeda berfikir.
"kenapa mesti bohong mas,dia ada di samping kamu kamu bilang ke toilet"
"dia ke toilet mbak"
"kamu bohong,berani bersumpah kalau dia sekarang lagi ke toilet?"
"loh,,,kok gitu,penting gitu mbak"
"ya penting buat saya mas,jika mas gak bohong mas berani ngucapin,mas kan laki laki"ucapku sambil menahan emosi.
"bukanyya gitu..."jawabnya
"mas berkelit,dan itu udah bukti kuat buat saya jika mas bohong,tolong donk mas hargai saya.jangan main main ini bukan telpon lokal yg bisa buat mainan".
"emang ini telpon dari mana?"
"luar negeri"jawabku ketus.
"luar negerinya mana ya?"
"mas kenal rio udah lama?"tanyaku ngawur sekenanya.
"penting buat kamu saoya kenal rio sejak kapan?"
"nah...itu, sekarang jawaban mas saya kembalikan,apakah penting buat mas untuk tahu saya telepon dari negara mana?"
ku dengar tawa pendek dari seberang,mungkin dia membenarkan penyangkalanku yang aku lontarkan kepadanya.
Rasa sakit lagi lagi memburu di dalam dadaku.sumpah serapah seakan ingin ku tumpahkan ke suara di seberang,tapi aku sadar itu hanya membuat dosa kepada orang yang tak pernah ku lihat batang hidungnya.akupun diam...membiarkan suara di sebrang terus terusan bilang hallo.
"di matikan"ucapnya kemudian di sertai suara tawa bersama yang samar samar terdengar,sesaat kemudian ku pandangi layar hpku tertera tulisan call ended.



***

                             bagaimana rasanya jika itu terjadi padamu ai???

๐Ÿƒ๐Ÿƒ Ku Tanggalkan Topeng Ketegaranku๐Ÿƒ๐Ÿƒ

YA RAAB...
Selama ini aku tak pernah berkeluh kesah kepada orang lain selain kepada-MU...
Aku tak pernah menceritakan setiap masalahku kepada yang lain selain kepada-MU

YA RAAB...
Ujian ataukah karma semua ini
Mereka bilang "ALLOH tidak akan menguji hamba-NYA di luar batas kemampuannya"
Apakah aku mampu kembali menjalani semua ini...
Dulu,kau mengujiku dengan berbagai cobaan aku kuat...
Tapi kenapa aku merasa lelah saat ini...
Aku terseok,tertatih,dan aku tersungkur dalam gelapnya hatiku...
Sesak...tak pernah ku rasakan dada sesesak ini...
Nyeri di ulu hati ini tak pernah sesakit ini...

YA RAAB...aku selalu berharap ketulusan dari orang orang sekitarku...
Saudara...Sahabat...bahkan orang yang pernah singgah dalam hatiku...

Tidak banyak kan RAAB?
Tapi,harapan itu selalu hanya sebuah harapan...
Mereka hanyalah sekumpulan orang orang yang memakai topeng kemunafikan...

Dan aku,rupanyapun telah lelah memakai topeng ketegaranku...


Kamis, 26 Juni 2014

๐Ÿ‚๐Ÿƒperkenalan pertama๐Ÿ‚๐Ÿƒ

"Saat kamu berada di titik terendah kebingungan maka kau akan mudah untuk melihatku"

suaranya samar samar menghilang terbawa hembusan angin malam.ku tarik kembali tanganku yang semula menutupi wajahku.mataku celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keberadaannya.

"Sudah pergi"bisikku dalam hati.

"Aku tidak pergi,hanya saja aku tak ingin kau melihatku lagi"
seketika tanganku menutup ke dua telingaku tatkala mendengar suara tersebut.tawanya melengking membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.

Aku bergegas meninggalkan teras tempat aku semula duduk.tak ku pedulikan cangkir coklatku yang masih tertinggal di meja luar.

Aku menarik selimut dan membaca do'a sebisaku,untuk menghalau rasa takutku.berhasil,akupun mulai memaksa mataku untuk terpejam.

Ya,Saat itulah pertama kali aku mengenal duniamu.dunia yang tidak semua orang tahu.

Senin, 19 Agustus 2013

.:. Tentang Cinta .:.

Cinta...
Satu kata yang bermakna jamak,yang mampu membawa pemerannya dalam sebuah drama kesedihan ataupun drama kebahagiaan.betul bukan?

tapi,tidak semua makluk sama mendefinisikan apa itu makna cinta yang sesungguhnya.ada yang berkata cinta itu indah,penuh warna,menyenangkan.ada pula yang menyerukan cinta itu menyakitkan,kelabu,dan menyengsarakan.itulah cintanya manusia kepada manusia,yang memiliki arti yang berbeda beda.
bagi mereka yang sedang jatuh cinta tentu saja mereka akan mengartikan bahwa cinta itu indah dan penuh warna,tapi bagi mereka yang pernah terluka tentu saja akan berkata cinta itu menyakitkan dan kelabu.

Bicara mengenai cinta ada banyak macamnya,
ada cinta kepada RAAB,ada cinta kepada ROSUL,ada cinta kepada orang tua,cinta kepada saudara,dan cinta kepada sahabat.tapi,cinta yang paling agung dan menguntungkan di antara cinta cinta yang lain adalah cinta kepada RAAB dan ROSULNYA.kenapa bisa begitu?karna cinta kepada RAAB kita tak akan pernah mengenal apa itu kata kecewa.cinta kepada RAAB kita akan semakin melahirkan kepuasan,kebahagiaan,dan keselamatan pada diri kita sendiri.
tanpa kita sadari sering kita terbuai dalam indahnya kata cinta yang di hadirkan dari sesama manusia yang berlawanan jenis yang kemudian tercipta sebuah hubungan yang di sebut pacaran.sang pelakon kisah cinta terbuai dalam indahnya bunga bunga dalam taman kasmaran,terlena hingga keduanya lupa bahwa pacaran tidak pernah di ajarkan dalam agama kita. Tak ada salahnya memang bila kita merasa jatuh cinta tapi hendaklah kita bisa dengan bijak dan benar dalam menempatkan kata cinta kepada definisi yang tidak menyimpang dari ajaran agama kita. cinta yang berdiri di atas nama pacaran tanpa di landasi dengan iman yang kuat dan keiklasan yang luar biasa hanyalah luka hati yang tertunda bila pada akhirnya cinta itu tak sesuai dengan yang kita harapkan.manakala takdir berkata "pilihan kita bukanlah pasangan yang terbaik untuk kita di mata ALLOH SWT".kalau sudah begitu pasti berakibat galau,penyedih,pesimis,pendiam.itu pasti akan terjadi bila hati sang pecinta tak di landasi iman yang kuat dan ketaqwaan ketika menjalankan cinta di atas roda pacaran.nah,maka dari itu perkuatlah iman dan ketaqwaan saat berada di pusaran cinta dalam danau asmara sang manusia. ada baikya jika kita menjaga kemurnian cinta kita tanpa menempatkannya di atas nama pacaran.menjemput pasangan sang pemilik cinta kita yang sejati jatinya dengan tebaran kebaikan dari kita kepada sesama bukan dengan pesona cinta yang salah penempatannya.

Senin, 12 Agustus 2013

.:. Gadis Bergaun Kusam .:.

Aku masih saja menikmati rintik hujan dari teras rumah meski udara dingin mulai terasa menusuk kulit,dengan di temani segelas susu hangat kesukaanku akupun enggan meninggalkan kursi usang tempatku bersandar.
mungkin juga karena rasa penat dan bosan yang menguasai pikiranku membuatku betah berlama lama menikmati pekat malam sendirian.
Malam...hmmmm aku menyukai malam,entah kenapa aku sendiri tak tau jelas sebabnya,kondisi ini sangat tidak sinkron dengan aku yang dulu,dulu aku hanyalah wanita penakut yang sangat benci dengan kegelapan dan kesenyapan.
"ah sudahlah lupakan saja semua itu"bisik hati kecilku sendiri.
Aku mulai teringat kejadian beberapa hari yang lalu yang menurutku janggal dan tidak biasanya,gadis itu...ya gadis itu aku melihat gadis bergaun kusam itu dengan jelas tersenyum ke arah kami,saat rombongan kami melewati rumah kecil yang berada di tepian jalan masuk ke rumah yang telah kami sewa,namun ketika ku tanyakan kepada sari teman serombonganku saat itu seakan akan ia tidak mengetahui keberadaannya padahal menurut aku jarak kami dengan gadis itu sangat dekat sekali saat kami berjalan melewatinya.

"udahlah ning lupain ajja, kali aja kamu salah lihat"ucap mbak sari meyakinkanku

"tapi beneran lho mbak tadi aku ngeliat gadis bergaun kusam berdiri di samping jalan yang tadi kita lewati mbak,masak cuma ketutupan gerimis aja mbak sari gak isa lihat"tuturku dengan nada kesal.

ku lihat mbak sari tertawa ke arahku sambil menyambar bantal dan melemparkannya ke arahku,kontan saja dengan sigap aku menghindari lemparan bantal darinya sambil bersungut sungut menuju ke ranjang untuk rebahan."di bilangin ada gadis kok gak percaya"

"gitu ajja marah,tahu gak ning kayaknya kesukaan kamu buat nonton film horror harus segera di hentikan kalau nggak pikiran horror hasil dari tontonan kamu itu bisa bisa buat kamu jadi paranoid tuh.itu rumah kosong udah lama sejak setahun yang lalu ning,kalau kamu gak percaya besok kita tanyakan mang asep yang bekerja menjaga rumah itu."

***
"selamat pagi mang"
"pagi eneng sari,hayu lebet.aya naon nya isuk isuk ka die?"ucapnya sambil mempersilahkan kami masuk.
Aku hanya diam sambil mendengarkan mbak sari berbicara kepada mang asep mengenai perihal kedatangan kami pagi itu,secara akupun tak begitu menguasai bahasa sunda yang sedang mereka gunakan untuk berbicara.akupun mengikuti langkah mereka menuju sebuah ruangan kecil yang berdesain elegan dan indah.lalu mang asep mempersilahkan kami duduk ke sebuah kursi yang berada di tengah tengah ruangan itu, sesaat sesudahnya iapun beranjak pergi ke belakang yang aku sendiri tak tau kemana dia pergi.

Aku melihat ke sekeliling ruangan itu,entahlah ada perasaan aneh yang ku rasakan saat aku memasukinya,perasaan sedih tiba tiba saja menyergap hatiku.aku terus melihat ruangan itu sambil menata perasaanku yang menurutku sendiri tiba tiba aneh.debaran halus yang aku tak tau kenapa tiba tiba saja bergelayut dalam jantungku.

Tanpa sengaja mataku menangkap ke sebuah bingkai photo keluarga yang tertempel di dinding yang tidak jauh dari tempat aku dan mbak sari duduki saat itu.aku tertegun sesaat menatap wajah wajah yang terpampang di bingkai itu,wajah yang aku lihat sore itupun ada di antara photo photo itu.tapi wajahnya sungguh jauh berbeda  dari yg pernah ku lihat.di photo itu ia nampak begitu ceria dan cantik dengan rambut lurus yang terjuntai sampai ke bahunya.
"deg"jantungku terasa mau berhenti saat mataku menangkap wajah itu seakan akan tersenyum ke arahku,namun cepat cepat ku kuasai perasaanku kembali."jangan parno gak ada makluk halus pagi pagi kayak gini"bisik batinku seorang diri

Sesaat kemudian mang asep muncul dengan membawa baki yang berisi teh manis di tanganya.ia lalu mempersilahkan kami untuk meminumnya sembari mengambil tempat duduk di sebelah kami.

"ning sari udah lama di sini"
"baru kemarin mang"
"pantas waktu kemarin mamang ke sini rumah sebelah itu masih kosong juga.ini adiknya ning sari?"tanya mang asep sambil melihat ke arahku dan akupun mengangguk sembari tersenyum sebagai sapaan penghormatan kepadanya.

"oh ini"ucap mbak sari sambil menepuk lirih tanganku."ini teman saya dari jawa mang" lanjutnya sambil menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap mang asep."namanya ningsih..."tambah mbak sari menjelaskan.

"kalian lagi liburan di sini ya?"tanyanya sambil melihat ke arahku.

"iya mang"jawabku singkat sambil tersenyum ke arahnya.

"mamang di rumah ini sendiri"tanyaku kemudian.

"mamang bersama istri mamang biasanya,cuma hari ini dia lagi mudik soalnya orang tuanya ada yang sakit,kalu mamang gak bisa pulang karna rumah ini gak boleh di kosongin soalnya besok mau ada tamu liburan ke sini juga ning"

aku mengangguk angguk tanda mengerti dengan ucapannya.
"tadi kalian lari lari pagi kemana ajja?"

"cuma ke sekitar sini ajja mang,sekalian nunjukin si ning daerah sekitar sini aja"jawab mbak sari
"iya suruh sari nunjukin tempat bagus sekitar sini dia udah tau semua kayaknya,ning sari sering ke sini,mamang kenal ning sari nih dari istri mamang soalnya ning sari nih orangnya baik suka bantuin istri mamang bawa belanjaan kalau bertemu dia pas pulang dari olahraga pagi"

"ha ha ha...sekalian olahraga tangan mang"ucap mbak sari menimpali perkataan mang asep,akupun tersenyum melihat mereka berdua yang ternyata udah kenal cukup lama.

"oh ya mang gadis yang di photo itu sering ke sini juga?"tanyaku sambil menunjuk ke arah photo yang tergantung di tembok sebelah kami duduk

"yang kamu maksud ning lia?dia udah berpulang sekitar 6 bulan yang lalu"jawabnya sambil menunduk sedih
"deg"jantungku benar benar terasa mau berhenti dan aku menatap mbak sari sambil mengerutkan keningku ke arahnya yg seketika perasaan takut tiba tiba menyusup lagi ke pikiranku.

"ning lia udah gak ada di dunia ini lagi,dia udah pergi,kasihan dia entah apa yang ada di benaknya hingga ia mengakiri hidupnya sendiri saat berada di rumah ini,padahal setahu mamang ning lia gak pernah punya masalah sama temannya anaknya juga baik"tambah mang asep menjelaskan sambil menarik nafas berat.

"ning mohon maaf mang,ning gak bermaksud membuat sedih mamang"

"mamang sari mohon pamit aja ya,lagian udah siang juga kapan kapan sari main lagi ke sini"ucap mbak sari sambil menarik tanganku mengajak berdiri.

"kok buru buru ning sari"

"gak kok mang kitanya udah lama,makasih jamuan tehnya mang"

"assalamualaikum mang"ucap kami sembari melangkah keluar pintu rumah itu.

"alaikusalam"balasnya kemudian.

***
Aku hanya diam di sepanjang perjalanan menuju rumah penginapan yang kami tempati.sejuta pertanyaan menghampiri otakku yang  pagi itu mengingat ucapan mang asep mengenai lia pada kami.lia,iya lia namanya lia.gadis bergaun kusam itu bernama lia.lalu kenapa ia harus bunuh diri?benarkah gadis yang ku lihat di sore bergerimis itu lia?jika ia bukan lia kenapa wajahnya begitu mirip dengan photo yang ku lihat di rumah itu,jika ia benar benar lia bukankah orang yang sudah meninggal akan kembali ke sisi-NYA,atau yang ku lihat sore itu hanya jin kafir yang menyerupai wajah lia.aku terus saja mengajak otakku bekerja mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri.

"nglamun aja,gak baik ning pagi pagi nglamun ntar kesambet setan lho"tegur mbak sari mengagetkanku.

"sapa yang nglamun mbak...orang aku lagi mikirin sesuatu..."elakku sambil mencubit pinggangnya.

"apa itu bukan sama saja dengan melamun?"

"ya nggaklah...kalau melamun kan mengosongkan pikiran kalau berfikir mempekerjakan pikiran"

mbak sari tertawa tebahak mendengar jawabanku.

"bisa aja kamu ning..."

"eh mbak...kalau orang bunuh diri itu gak di terima di sisi ALLOH ya?"

"iya benar..."

"Lalu mereka di mana?"tanyaku memburu.

"di mana ya,ntar aku tanya ma ustadku dulu ya ning...kamu kok tanyanya aneh aneh mang mau ngobrolin apa?"jawab mbak sari sambil menghentikan langkahnya dan mengerutkan dahinya menatapku.

"he...he...he..."aku tersenyum terpaksa sambil menggaruk garuk kepalaku yang tidak terasa gatal.
"mbak...setahu ning orang yang bunuh diri itu bakalan gentayangan ya karna belum di terima kematiannya oleh ALLOH,apa mungkin lia saat ini masih gentayangan?"

ia diam,tapi ku lihat mbak sari memutar mutarkan matanya lalu mendongakkan kepalanya seakan mengingat sesuatu.
"mungkin juga ya ning..."jawabnya kemudian.

"lama amat jawabnya mbak..."ucapku sambil membalikkan badan melanjutkan langkahku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri di tempat.

"eh tunggu ning..."teriaknya di iringi suara langkah kakinya yang berusaha mengejarku untuk mengimbangi lari kecilku.

"kamu beneran lihat gadis di sore bergerimis itu wajahnya mirip lia anak bosnya mang asep tadi?"tanya mbak lia menyelidik dengan wajah serius.

aku menghentikan lariku,di susul mbak sari yang juga menghentikan larinya.aku memasang wajah serius menatap mbak sari yang dengan jelas menanti jawaban dariku.

"mau tau aja atau mau tau banget?"jawabku selang beberapa detik kemudian di iringi suara tawa terbahakku yang mendapati mbak sari dengan muka serius menatap diriku menunggu jawabanku atas pertanyaannya.
lagi lagi aku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri dengan wajah manyun mendengar jawabanku yang mencandainya.

"banget...banget...banget..."teriak mbak sari yang kemudian mengejar lariku.

"nanti malam akan ning kasih tau"jawabku sambil menjulurkan lidahku ke arahnya.

mbak sari tertawa terbahak melihat aksiku yang meledeknya.pagi itu kami tak menghiraukan tatapan beberapa mata yang tertuju pada kami atas tawa kami yang mungkin terbilang berlebihan buat mereka.

lantas apa yang membuat lia mengakiri hidupnya dengan sia sia?arghhhh biarlah itu menjadi rahasia bagi lia sendiri.

pikiranku menerawang,mengajakku menengok biduk masa lalu yang telah ku tutup rapat dalam memori otakku.sakit hati,kekecewaan,penghinaan,pengorbanan yang sia sia mengajarkanku banyak arti,dan sekarang aku tahu pesakitan adalah jembatan bagi diriku untuk menyebrangi kedewasaan ke tingkat yang lebih baik lagi.






Kamis, 04 Juli 2013

.:. Merah Jambu .:.

Lihatlah,
Malam mulai mengepakkan sayapnya
Ia telah menaklukkan sang jingga
Yang baru saja memamerkan keindahannya

Dan kaupun tahu,
Ini bukan masalah menang atau kalahkan?
Ini hanya perpindahan posisi
Yang telah di gariskan oleh SANG PENCIPTA
Dari siang...senja...lalu menjadi malam

Begitu juga dengan aku dan kau
Yang kemudian menjadi kita
Tapi tunggu dulu,
Ini bukan masalah hati
Dan kaupun tahu itu,
Melainkan sekumpulan cerita
Dari pertemuan,perkenalan,lalu menjadi persahabatan.

Indah bukan?
Laksana lukisan yang berdominan warna biru yang menggambarkan kedamaian
Dan aku suka!!!!
Tapi...
Sayang keindahan itu lenyap dalam sekejap
Saat kau mulai memaksa mengoreskan warna merah jambu ke dalam kanvasku
"Aku tidak mau"jawabku
"Aku maunya seperti itu"tegasmu

Kita mulai terseok,
Aku memilih diamku dan kau dengan tumpukan kecewamu
Tak ada lagi cerita...adu argumen...ataupun gelak tawa...
Senyap...
Duniaku duniaku dan duniamu duniamu...

Bisikku,
Maafkan aku yang tak pernah bisa memadukan merah jambumu ke dalam lukisanku

Senin, 01 Juli 2013

.:. Perlombaan Pertamaku .:.

"aku tak mau ke sana pak''ucapku sambil menangis.
"kenapa tho nduk?bukannya kamu malah senang bisa terpilih menjadi murid yang terbaik di sekolahmu untuk mewakili sekolahmu berlomba?"tanya bapakku sambil mendekat ke arahku.
aku terus menangis tanpa mempedulikan pertanyaan bapakku,aku sendiri tak tau kenapa aku begitu takut pergi ke tempat itu.bukannya aku kemarin sudah ke sana.bukannya aku sudah besar.bukannya aku sudah saatnya belajar pergi kemana mana sendiri tanpa pengawasan orang tua.tapi kenapa rasa takut dan rasa minder selalu menghantui setiap langkahku.
"apa kamu takut bukan yang terbaik nantinya?atau ada teman yang mengolok olok kamu nduk?"tanyanya sekali lagi kepadaku.
aku menatap wajah bapakku sambil menggelengkan kepalaku,
"lantas apa yang membuatmu tak mau ikut lomba?seharusnya kamu bangga nduk bisa terpilih untuk mewakili sekolahmu berlomba di tempat itu.banyak anak anak lain yang ingin seperti kamu tapi tak berkesempatan.ingat nduk dalam perlombaan kita memang di wajibkan untuk berusaha menjadi yang pertama yang di sebut pemenang tapi kamu juga harus berlapang dada jika memang tidak bisa menjadi yang pertama yang terpenting modal utama adalah ikut berlomba,berusaha dan do'a.menang atau kalah itu sudah hal yang biasa dalam sebuah perlombaan"tambah bapakku kemudian,
"bukan soal itu pak"
"lantas kenapa nduk?"
"aku takut pulang naik angkot sendiri pak"jawabku lirih sambil menghapus airmata yang jatuh ke pipiku.bapakku tertawa mendengar jawaban dariku,dia mendekat ke arahku dan mengelus ngelus rambutku. aku hanya menunduk sambil mengusap sisa sia airmata di sekitar pipiku.
"nduk...apa yang kamu takutkan kalau naik angkot sendiri,kan kemarin udah naik angkot sendiri dan kamu juga pulang dengan selamat kan baik baik aja?"tanya bapakku menyelidik."apa perlu bapak buatin oncor atau bawa senter biar gak takut lagi?"tambahnya menggoda.
Ya,ucapan itulah yang selalu bapakku lontarkan di kala  aku mengeluh takut,karna dia tahu aku paling takut di tempat yang gelap.tapi kali ini bukan itu yang ku takutkan.bukan tempat yang gelap tapi keisengan keisengan kakak kakak laki laki yang sering nongkrong di tempat angkot.
"bapak...ngoda mulu,,,"jawabku sambil merajuk dan memukul mukul ringan tangan bapakku.bapakku tertawa sambil mencoba menghindar dari pukulanku.ku lihat dia berjalan menuju ke arah meja dan mengambil secangkir kopi lalu meneguknya sambil menatap ke arahku.
"kamu udah gede,gak usah takut gak usah malu gak usah minder"
"iya nduk gak usah takut atau begini saja biar besok bapakmu yang jemput kamu ke tempat perlombaan kamu,nanti uang transportasi yang sekolahan berikan ke kamu biar bisa kamu tabung"ibuku yang sedari tadi sibuk menyelesaikan jahitan baju akhirnya angkat bicara dan membujukku.
Aku diam sejenak mencoba membayangkan jarak rumahku dengan tempatku berlomba.dan itu merupakan bilangan jauh menurut perhitunganku sedangkan bapak tidak punya sepeda motor apa mungkin naik angkot,atau jangan jangan naik sepeda pancal seperti biasanya,bukanya aku malu jika bapak menjemputuku dengan sepeda buntutnya tapi aku hanya merasa kasihan jika beliau harus menaiki sepeda itu ke tempat yang cukup jauh,di tambah lagi pulangnya harus memboncengku.
"kok malah diam,bagaimana setuju gak ma tawaran ibu"tanya ibuku membuyarkan lamunanku.
"tapi kan jauh bu...memangnya mau naik apa jemputnya"
"naik sepeda bapakmu tuh"jawabnya sambil menunjuk ke arah sepeda yang di senderkan tak jauh dari tempat kami berbincang.
"tuh kan benar dugaanku"bisikku dalam hati.
"tapi kan jauh bu...nanti bapak capek."
"gak apa apa besok bapak pulang dari sawahnya lebih awal biar bapak yang jemput kamu aja supaya kamu gak takut da tetep mau ikut berlomba"
"tapi kan jauh pak..."bantahku sekali lagi.
bapak tersenyum ke arahku lalu meneguk kembali secangkir kopi yang berada di tangannya.
"yang penting kamu tetap ikut lomba nduk,apa artinya capek buat bapak kalau anak bapak adalah anak yang pintar"ucapnya kemudian.
aku tersipu malu mendengar ucapan bapak,ku lihat ibu tersenyum ke arahku lalu duduk di sampingku dan mengelus rambutku.
"kami bahagia dan bersyukur punya anak pintar sepertimu nduk"ucapnya kemudian.
"aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kalian pak bu"

***

Jumat, 27 Juni 2014

๐Ÿ‘‰❤๐Ÿ‘‰ Our Story ๐Ÿ‘‰❤๐Ÿ‘ˆ

Diposting oleh Nayla Ahebich di 17.49 0 komentar

.:.Our Story Part 1.:.

Entah berapa kali aku mereplay lagu papinka malam hingga menjelang pagi ini,aku rasa tak terhitung sudah jumlahnya.lagu dengan judul "di mana hatimu" benar benar mewakili perasaanku saat ini.Begitu juga aliran bening yang masih saja merambah di pipiku yang menjadikan mataku bengkak dan menghitam di sekitarnya.
ya,sejak aku menggalkan mukenaku selepas pengaduanku semalam kepada RAAB-ku,aku memilih meninggalkan kamarku dan duduk di pojok taman belakang rumah.aku membiarkan tangisku pecah di antara deruan angin malam yang menyapa pohon pohon rindang dengan suara yang berdesir di sekitar tempat aku duduk,tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya jika malam itu aku sedang rapuh.
Rupanya semalam adalah malam yang tidak bersahabat denganku,malam yang menjemput kesunyian menjadi saksi bisu atas semua harapan dan penantianku beberapa tahun ini yang laksana butir butir peluru yang dengan tiba tiba menembus kepalaku yang memaksa menghancurkan pemikiran pemikiranku tentang kita saat itu juga.malam yang menjadi saksi atas betapa tak berdayanya aku yang harus menuruti ingin sekaligus keputusanmu.
Aku melumat sunyi malam seorang diri dan menyandarkan tubuhku di bangku tua memandang jauh ke langit.
pikiranku membawaku pada percakapan tiga hari yang lalu bersama rio yang menjadi awal dari perdebatan hingga akhirnya dia memilih kata koma dari kata kita.ya kita,aku dan dia.yang berarti jarak.



***


"assalamualaikum"
"walaikumsalam"terdengar suara datar tanpa semangat dari jawaban di seberang.
"baru pulang ya"tanyaku membuka percakapan
"iya"jawabnya lagi singkat,
selalu begitu jawaban yang ku peroleh.tak ada lagi tanya ulang darinya kepadaku sebagai rasa keingintahuannya tentang keadaanku seperti yang dulu dulu,jika sudah seperti itu aku hanya bisa menahan butiran airmata yg siap meluncur ke luar dan mengatur intonasi suaraku agar tidak terdengar bergetar menahan tangis.
Batinku berteriak"kenapa kau sekarang tak pernah mempertanyakan keadaanku ai,sudah hampir enam bulan sekarang kau mengacuhkanku".namun hati kecilku kembali memberi jawaban"dia sibuk dengan pekerjaanya sekarang,banyak sekali hal yang harus di pikirkannya jadi mengertilah karna kau tak bisa membantunya seperti yang beberapa hari sebelumnya pernah dia ucapkan"
dan kamipun saling bungkam,aku dengan pikiranku yang masih tentangnya dan dia...arghhh entahlah apa yang dia pikirkan setiap kali diam jika aku meneleponnya.mungkin dia memang benar benar malas mendengar suaraku seperti yang selalu dia ucapkan di setiap akhir perdebatan perdebatan kecil antara aku dan dia akhir akhir ini.
"kamu sedang apa"tanyaku lagi membuyarkan kebungkaman antara kami berdua.
"siap siap mau pulang,"
Dan aku diam tak bersuara mendengar jawabannya.
"kamu marah?"tanyanya menambahkan.
aku tak menjawab pertanyaannya hanya menghela nafas dalam entah dia mendengar atau tidak namun selepasnya dia berkata lagi "sulit ya menerima keadaanku yang seperti sekarang ini".
"maksudmu?"tanyaku memperjelas atas ucapannya.
hening sesaat tak ada lagi jawaban.
"Aku heran sama sikapmu sekarang ai,kamu tak seperti yang dulu lagi"tanyaku pelan berusaha tak membangkitkan emosi dia.
"perasaan kamu saja,tak ada yang berubah denganku" jawabnya ketus
"tidak,kamu sekarang berubah gak seperti dulu lagi,kamu dulu care sama aku sekarang menyapaku aja  kamu bilang tak ada waktu,padahal kamu bisa futsal sama teman teman kamu,kamu bilang capek tapi ada waktu buat futsal apakah menyapaku merupakan suatu pekerjaan yang berat?setiap kali aku telpon kamu bilang capek capek dan capek.kenapa buat temanmu kamu ada waktu tapi buatku tidak ada????cerocosku menumpahkan segala uneg uneg yang bertengger di benakku beberapa bulan terakhir ini.
"arghhh...aku udah malas,mau kamu apa?jangan muter muter ngomongnya.aku capek aku udah bener bener malas,ngomong mau kamu apa"jawabnya dengan suara keras dan ketus
"astaqfirullohaladzim ai...aku tanya baik baik kenapa kamu nyolot kayak gitu."
"sebenarnya aku ini apa kamu?kenapa kamu kasar banget ma aku,kamu dulu gak kayak gitu kenapa sekarang kamu seperti itu ai?"
"arghhhh udahlah kamu yang gak kenal aku ajja,aku sama dari dulu hingga sekarang ya kayak gini.kalau mau ya gini kalau gak ya terserah"jawab rio ketus seakan tanpa beban.
aku menghela nafas dalam mendengar ucapan rio seperti itu,tak terasa bulir bening tak mampu ku tahan lagi.aku terisak dalam diamku dan menutup ujung telepon dengan tanganku berharap dia tak mendengar suara tangisku.
"aku rasa bukan aku yang tak bisa mengenalimu,tapi kamu yang berubah ai,waktu tiga tahun lebih bukan waktu yang singkat untuk saling mengenal dalam sebuah hubungan bukan?tanyaku setelah aku mampu menguasai tangisku.atau kamu menyesal mengenalku setelah kau tahu keadaanku yang hanya gadis kampung setelah kau bertandang ke riumahku setahun setengah yang lalu?"
"tidak,aku gak bernah berfikir ke arah situ.mau kamu apa,ngomong jangan puter puter kemana mana kayak gini,ngomong aja"ucapnya lagi lagi dengan nada marah.
"udah udah jangan marah,aku gak mau apa apa.kontrol emosi kamu aku gak ingin darah tinggi kamu kambuh gara gara aku"tuturku berusaha meredam emosinya yang udah mulai meninggi.
"biarin toh kamu udah gak peduli lagi"
"kalau aku gak peduli ma kamu ngapain aku menghubungi kamu tiap hari?itu karna aku care ke kamu bukannya kayak kamu ke aku nyapa aja gak ma..."
"mau mulai lagi debatnya"potongnya kepadaku
"nggak nggak,kamu kapan pulang?"tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"gak tau,aku lapar"
"kalau lapar makan dulu baru pulang,hati hati di jalan..."
"iya"
"ya udah,udah malam siap siap aja dulu ntar keburu malam"
"iya"jawabnya sekali lagi.
aku menarik nafas dalam lalu mengucapkan salam padanya dan mematikan hp.


***


kekuatan hati akan sebuah tekad yang telah terpatri membuat lebih mudah menjalani perputaran hari,berat tak lagi sebuah kendala,waktu bukan lagi sebuah kelelahan hati.

"halo assalamualaikum..."
"halo assalamualaikum,dengar suaraku gak ai...?"dengan nada suara yang bahagia.
"iya dengar...alaikumsalam,lagi di mana rame amat..."tanyaku kepadanya
"lagi di luar makan ma teman teman"
"ooo,pantes berisik"ucapku pelan.
"gimana ai..."
"apanya..."
"nggak..."
"oh ya ai,aku dapat kiriman kado ultah dari orang yang kamu benci"ucapku pelan.
hening menyelimuti percakapanku dengannya.tak ada respon darinya.batinku bersorak girang "asyik dia pasti cemburu,dengan mendengar kenyataan ini dia pasti cemburu.aku kangen cemburumu ai,aku sangat kangen dengan ekspresimu saat cemburu seperti yang dulu dulu"bisik hati kecilku seorang diri.
"siapa"tanyanya kemudian
"agus"jawabku pelan
"apa kadonya?
"buku"
"bagus bukunya"
"bagus ai"
"ai ternyata statusmu benar ya"ucapnya tiba tiba
"status apa?"
"status di facebook,kepercayaan itu ibarat keperawanan:harus di jaga karna sekali hilang tak kan pernah kembali.ya seperti itu aku ke kamu.aku udah gak percaya lagi sama kamu.jadi selama ini kamu masih tetap berhubungan dengan dia dan kamu udah ngebohongin aku jadi lakukan aja apa yang kamu mau aku udah gak peduli lagi ma kamu"
"bukannya begitu ai..."
"udah kamu nikah aja ma dia"ucapnya ketus sembari mematikan telepon tanpa mau mendengarkan penjelasanku.
aku menarik nafas dalam sembari memandangi hpku yang berada di tanganku"kamu egois ai"bisikku seorang diri.nyeri kembali menyusup ke dadaku.lagi dan lagi aku menarik nafas dalam.
"kenapa kau tidak pernah mengakui bila kamu cemburu,bukankah sebenarnya itu yang ada di dalam pikiranmu,kamu egois ai terlalu egois untuk mengakui perasaan kamu sendiri"makiku seorang diri.
sesal menyeruak tiba tiba dalam hatiku.pancingan yang menginginkan cemburunya ternyata menjadi awal boomerang antara aku dan dia.
Aku tak mampu menahan rasa keingintahuanku alasan amarahnya,akupun mencoba kembali menghubunginya,
"kenapa sih kamu itu ai"tanyaku langsung tanpa basa basi
"maaf ini siapa ya,saya bukan rio"jawabnya dengan suara polos
"saya temannya,dia di mana?"tanyaku langsung tanpa basa basi juga
"dia lagi keluar mbak"
deg,aku kaget saat suara di sebrang berkata demikian.bukannya tadi rio bilang sedang di luar kenapa temannya jawab dia sekarang ke luar.aku langsung bisa menebak penerima telpon ini sedang berbohong.akupun meluncurkan berbagai pertanyaan ke dia secara bolak balik.
"bukannya dia tadi bilang dah di luar kok kamu bilang keluar lagi,kamu bohong ya"
"emmmmm maksudku ke toilet mbak"jawabnya blepotan seperti ada jeda berfikir.
"kenapa mesti bohong mas,dia ada di samping kamu kamu bilang ke toilet"
"dia ke toilet mbak"
"kamu bohong,berani bersumpah kalau dia sekarang lagi ke toilet?"
"loh,,,kok gitu,penting gitu mbak"
"ya penting buat saya mas,jika mas gak bohong mas berani ngucapin,mas kan laki laki"ucapku sambil menahan emosi.
"bukanyya gitu..."jawabnya
"mas berkelit,dan itu udah bukti kuat buat saya jika mas bohong,tolong donk mas hargai saya.jangan main main ini bukan telpon lokal yg bisa buat mainan".
"emang ini telpon dari mana?"
"luar negeri"jawabku ketus.
"luar negerinya mana ya?"
"mas kenal rio udah lama?"tanyaku ngawur sekenanya.
"penting buat kamu saoya kenal rio sejak kapan?"
"nah...itu, sekarang jawaban mas saya kembalikan,apakah penting buat mas untuk tahu saya telepon dari negara mana?"
ku dengar tawa pendek dari seberang,mungkin dia membenarkan penyangkalanku yang aku lontarkan kepadanya.
Rasa sakit lagi lagi memburu di dalam dadaku.sumpah serapah seakan ingin ku tumpahkan ke suara di seberang,tapi aku sadar itu hanya membuat dosa kepada orang yang tak pernah ku lihat batang hidungnya.akupun diam...membiarkan suara di sebrang terus terusan bilang hallo.
"di matikan"ucapnya kemudian di sertai suara tawa bersama yang samar samar terdengar,sesaat kemudian ku pandangi layar hpku tertera tulisan call ended.



***

                             bagaimana rasanya jika itu terjadi padamu ai???

๐Ÿƒ๐Ÿƒ Ku Tanggalkan Topeng Ketegaranku๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Diposting oleh Nayla Ahebich di 01.09 0 komentar
YA RAAB...
Selama ini aku tak pernah berkeluh kesah kepada orang lain selain kepada-MU...
Aku tak pernah menceritakan setiap masalahku kepada yang lain selain kepada-MU

YA RAAB...
Ujian ataukah karma semua ini
Mereka bilang "ALLOH tidak akan menguji hamba-NYA di luar batas kemampuannya"
Apakah aku mampu kembali menjalani semua ini...
Dulu,kau mengujiku dengan berbagai cobaan aku kuat...
Tapi kenapa aku merasa lelah saat ini...
Aku terseok,tertatih,dan aku tersungkur dalam gelapnya hatiku...
Sesak...tak pernah ku rasakan dada sesesak ini...
Nyeri di ulu hati ini tak pernah sesakit ini...

YA RAAB...aku selalu berharap ketulusan dari orang orang sekitarku...
Saudara...Sahabat...bahkan orang yang pernah singgah dalam hatiku...

Tidak banyak kan RAAB?
Tapi,harapan itu selalu hanya sebuah harapan...
Mereka hanyalah sekumpulan orang orang yang memakai topeng kemunafikan...

Dan aku,rupanyapun telah lelah memakai topeng ketegaranku...


Kamis, 26 Juni 2014

๐Ÿ‚๐Ÿƒperkenalan pertama๐Ÿ‚๐Ÿƒ

Diposting oleh Nayla Ahebich di 21.05 0 komentar
"Saat kamu berada di titik terendah kebingungan maka kau akan mudah untuk melihatku"

suaranya samar samar menghilang terbawa hembusan angin malam.ku tarik kembali tanganku yang semula menutupi wajahku.mataku celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keberadaannya.

"Sudah pergi"bisikku dalam hati.

"Aku tidak pergi,hanya saja aku tak ingin kau melihatku lagi"
seketika tanganku menutup ke dua telingaku tatkala mendengar suara tersebut.tawanya melengking membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.

Aku bergegas meninggalkan teras tempat aku semula duduk.tak ku pedulikan cangkir coklatku yang masih tertinggal di meja luar.

Aku menarik selimut dan membaca do'a sebisaku,untuk menghalau rasa takutku.berhasil,akupun mulai memaksa mataku untuk terpejam.

Ya,Saat itulah pertama kali aku mengenal duniamu.dunia yang tidak semua orang tahu.

Senin, 19 Agustus 2013

.:. Tentang Cinta .:.

Diposting oleh Nayla Ahebich di 05.53 0 komentar
Cinta...
Satu kata yang bermakna jamak,yang mampu membawa pemerannya dalam sebuah drama kesedihan ataupun drama kebahagiaan.betul bukan?

tapi,tidak semua makluk sama mendefinisikan apa itu makna cinta yang sesungguhnya.ada yang berkata cinta itu indah,penuh warna,menyenangkan.ada pula yang menyerukan cinta itu menyakitkan,kelabu,dan menyengsarakan.itulah cintanya manusia kepada manusia,yang memiliki arti yang berbeda beda.
bagi mereka yang sedang jatuh cinta tentu saja mereka akan mengartikan bahwa cinta itu indah dan penuh warna,tapi bagi mereka yang pernah terluka tentu saja akan berkata cinta itu menyakitkan dan kelabu.

Bicara mengenai cinta ada banyak macamnya,
ada cinta kepada RAAB,ada cinta kepada ROSUL,ada cinta kepada orang tua,cinta kepada saudara,dan cinta kepada sahabat.tapi,cinta yang paling agung dan menguntungkan di antara cinta cinta yang lain adalah cinta kepada RAAB dan ROSULNYA.kenapa bisa begitu?karna cinta kepada RAAB kita tak akan pernah mengenal apa itu kata kecewa.cinta kepada RAAB kita akan semakin melahirkan kepuasan,kebahagiaan,dan keselamatan pada diri kita sendiri.
tanpa kita sadari sering kita terbuai dalam indahnya kata cinta yang di hadirkan dari sesama manusia yang berlawanan jenis yang kemudian tercipta sebuah hubungan yang di sebut pacaran.sang pelakon kisah cinta terbuai dalam indahnya bunga bunga dalam taman kasmaran,terlena hingga keduanya lupa bahwa pacaran tidak pernah di ajarkan dalam agama kita. Tak ada salahnya memang bila kita merasa jatuh cinta tapi hendaklah kita bisa dengan bijak dan benar dalam menempatkan kata cinta kepada definisi yang tidak menyimpang dari ajaran agama kita. cinta yang berdiri di atas nama pacaran tanpa di landasi dengan iman yang kuat dan keiklasan yang luar biasa hanyalah luka hati yang tertunda bila pada akhirnya cinta itu tak sesuai dengan yang kita harapkan.manakala takdir berkata "pilihan kita bukanlah pasangan yang terbaik untuk kita di mata ALLOH SWT".kalau sudah begitu pasti berakibat galau,penyedih,pesimis,pendiam.itu pasti akan terjadi bila hati sang pecinta tak di landasi iman yang kuat dan ketaqwaan ketika menjalankan cinta di atas roda pacaran.nah,maka dari itu perkuatlah iman dan ketaqwaan saat berada di pusaran cinta dalam danau asmara sang manusia. ada baikya jika kita menjaga kemurnian cinta kita tanpa menempatkannya di atas nama pacaran.menjemput pasangan sang pemilik cinta kita yang sejati jatinya dengan tebaran kebaikan dari kita kepada sesama bukan dengan pesona cinta yang salah penempatannya.

Senin, 12 Agustus 2013

.:. Gadis Bergaun Kusam .:.

Diposting oleh Nayla Ahebich di 20.07 0 komentar
Aku masih saja menikmati rintik hujan dari teras rumah meski udara dingin mulai terasa menusuk kulit,dengan di temani segelas susu hangat kesukaanku akupun enggan meninggalkan kursi usang tempatku bersandar.
mungkin juga karena rasa penat dan bosan yang menguasai pikiranku membuatku betah berlama lama menikmati pekat malam sendirian.
Malam...hmmmm aku menyukai malam,entah kenapa aku sendiri tak tau jelas sebabnya,kondisi ini sangat tidak sinkron dengan aku yang dulu,dulu aku hanyalah wanita penakut yang sangat benci dengan kegelapan dan kesenyapan.
"ah sudahlah lupakan saja semua itu"bisik hati kecilku sendiri.
Aku mulai teringat kejadian beberapa hari yang lalu yang menurutku janggal dan tidak biasanya,gadis itu...ya gadis itu aku melihat gadis bergaun kusam itu dengan jelas tersenyum ke arah kami,saat rombongan kami melewati rumah kecil yang berada di tepian jalan masuk ke rumah yang telah kami sewa,namun ketika ku tanyakan kepada sari teman serombonganku saat itu seakan akan ia tidak mengetahui keberadaannya padahal menurut aku jarak kami dengan gadis itu sangat dekat sekali saat kami berjalan melewatinya.

"udahlah ning lupain ajja, kali aja kamu salah lihat"ucap mbak sari meyakinkanku

"tapi beneran lho mbak tadi aku ngeliat gadis bergaun kusam berdiri di samping jalan yang tadi kita lewati mbak,masak cuma ketutupan gerimis aja mbak sari gak isa lihat"tuturku dengan nada kesal.

ku lihat mbak sari tertawa ke arahku sambil menyambar bantal dan melemparkannya ke arahku,kontan saja dengan sigap aku menghindari lemparan bantal darinya sambil bersungut sungut menuju ke ranjang untuk rebahan."di bilangin ada gadis kok gak percaya"

"gitu ajja marah,tahu gak ning kayaknya kesukaan kamu buat nonton film horror harus segera di hentikan kalau nggak pikiran horror hasil dari tontonan kamu itu bisa bisa buat kamu jadi paranoid tuh.itu rumah kosong udah lama sejak setahun yang lalu ning,kalau kamu gak percaya besok kita tanyakan mang asep yang bekerja menjaga rumah itu."

***
"selamat pagi mang"
"pagi eneng sari,hayu lebet.aya naon nya isuk isuk ka die?"ucapnya sambil mempersilahkan kami masuk.
Aku hanya diam sambil mendengarkan mbak sari berbicara kepada mang asep mengenai perihal kedatangan kami pagi itu,secara akupun tak begitu menguasai bahasa sunda yang sedang mereka gunakan untuk berbicara.akupun mengikuti langkah mereka menuju sebuah ruangan kecil yang berdesain elegan dan indah.lalu mang asep mempersilahkan kami duduk ke sebuah kursi yang berada di tengah tengah ruangan itu, sesaat sesudahnya iapun beranjak pergi ke belakang yang aku sendiri tak tau kemana dia pergi.

Aku melihat ke sekeliling ruangan itu,entahlah ada perasaan aneh yang ku rasakan saat aku memasukinya,perasaan sedih tiba tiba saja menyergap hatiku.aku terus melihat ruangan itu sambil menata perasaanku yang menurutku sendiri tiba tiba aneh.debaran halus yang aku tak tau kenapa tiba tiba saja bergelayut dalam jantungku.

Tanpa sengaja mataku menangkap ke sebuah bingkai photo keluarga yang tertempel di dinding yang tidak jauh dari tempat aku dan mbak sari duduki saat itu.aku tertegun sesaat menatap wajah wajah yang terpampang di bingkai itu,wajah yang aku lihat sore itupun ada di antara photo photo itu.tapi wajahnya sungguh jauh berbeda  dari yg pernah ku lihat.di photo itu ia nampak begitu ceria dan cantik dengan rambut lurus yang terjuntai sampai ke bahunya.
"deg"jantungku terasa mau berhenti saat mataku menangkap wajah itu seakan akan tersenyum ke arahku,namun cepat cepat ku kuasai perasaanku kembali."jangan parno gak ada makluk halus pagi pagi kayak gini"bisik batinku seorang diri

Sesaat kemudian mang asep muncul dengan membawa baki yang berisi teh manis di tanganya.ia lalu mempersilahkan kami untuk meminumnya sembari mengambil tempat duduk di sebelah kami.

"ning sari udah lama di sini"
"baru kemarin mang"
"pantas waktu kemarin mamang ke sini rumah sebelah itu masih kosong juga.ini adiknya ning sari?"tanya mang asep sambil melihat ke arahku dan akupun mengangguk sembari tersenyum sebagai sapaan penghormatan kepadanya.

"oh ini"ucap mbak sari sambil menepuk lirih tanganku."ini teman saya dari jawa mang" lanjutnya sambil menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap mang asep."namanya ningsih..."tambah mbak sari menjelaskan.

"kalian lagi liburan di sini ya?"tanyanya sambil melihat ke arahku.

"iya mang"jawabku singkat sambil tersenyum ke arahnya.

"mamang di rumah ini sendiri"tanyaku kemudian.

"mamang bersama istri mamang biasanya,cuma hari ini dia lagi mudik soalnya orang tuanya ada yang sakit,kalu mamang gak bisa pulang karna rumah ini gak boleh di kosongin soalnya besok mau ada tamu liburan ke sini juga ning"

aku mengangguk angguk tanda mengerti dengan ucapannya.
"tadi kalian lari lari pagi kemana ajja?"

"cuma ke sekitar sini ajja mang,sekalian nunjukin si ning daerah sekitar sini aja"jawab mbak sari
"iya suruh sari nunjukin tempat bagus sekitar sini dia udah tau semua kayaknya,ning sari sering ke sini,mamang kenal ning sari nih dari istri mamang soalnya ning sari nih orangnya baik suka bantuin istri mamang bawa belanjaan kalau bertemu dia pas pulang dari olahraga pagi"

"ha ha ha...sekalian olahraga tangan mang"ucap mbak sari menimpali perkataan mang asep,akupun tersenyum melihat mereka berdua yang ternyata udah kenal cukup lama.

"oh ya mang gadis yang di photo itu sering ke sini juga?"tanyaku sambil menunjuk ke arah photo yang tergantung di tembok sebelah kami duduk

"yang kamu maksud ning lia?dia udah berpulang sekitar 6 bulan yang lalu"jawabnya sambil menunduk sedih
"deg"jantungku benar benar terasa mau berhenti dan aku menatap mbak sari sambil mengerutkan keningku ke arahnya yg seketika perasaan takut tiba tiba menyusup lagi ke pikiranku.

"ning lia udah gak ada di dunia ini lagi,dia udah pergi,kasihan dia entah apa yang ada di benaknya hingga ia mengakiri hidupnya sendiri saat berada di rumah ini,padahal setahu mamang ning lia gak pernah punya masalah sama temannya anaknya juga baik"tambah mang asep menjelaskan sambil menarik nafas berat.

"ning mohon maaf mang,ning gak bermaksud membuat sedih mamang"

"mamang sari mohon pamit aja ya,lagian udah siang juga kapan kapan sari main lagi ke sini"ucap mbak sari sambil menarik tanganku mengajak berdiri.

"kok buru buru ning sari"

"gak kok mang kitanya udah lama,makasih jamuan tehnya mang"

"assalamualaikum mang"ucap kami sembari melangkah keluar pintu rumah itu.

"alaikusalam"balasnya kemudian.

***
Aku hanya diam di sepanjang perjalanan menuju rumah penginapan yang kami tempati.sejuta pertanyaan menghampiri otakku yang  pagi itu mengingat ucapan mang asep mengenai lia pada kami.lia,iya lia namanya lia.gadis bergaun kusam itu bernama lia.lalu kenapa ia harus bunuh diri?benarkah gadis yang ku lihat di sore bergerimis itu lia?jika ia bukan lia kenapa wajahnya begitu mirip dengan photo yang ku lihat di rumah itu,jika ia benar benar lia bukankah orang yang sudah meninggal akan kembali ke sisi-NYA,atau yang ku lihat sore itu hanya jin kafir yang menyerupai wajah lia.aku terus saja mengajak otakku bekerja mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri.

"nglamun aja,gak baik ning pagi pagi nglamun ntar kesambet setan lho"tegur mbak sari mengagetkanku.

"sapa yang nglamun mbak...orang aku lagi mikirin sesuatu..."elakku sambil mencubit pinggangnya.

"apa itu bukan sama saja dengan melamun?"

"ya nggaklah...kalau melamun kan mengosongkan pikiran kalau berfikir mempekerjakan pikiran"

mbak sari tertawa tebahak mendengar jawabanku.

"bisa aja kamu ning..."

"eh mbak...kalau orang bunuh diri itu gak di terima di sisi ALLOH ya?"

"iya benar..."

"Lalu mereka di mana?"tanyaku memburu.

"di mana ya,ntar aku tanya ma ustadku dulu ya ning...kamu kok tanyanya aneh aneh mang mau ngobrolin apa?"jawab mbak sari sambil menghentikan langkahnya dan mengerutkan dahinya menatapku.

"he...he...he..."aku tersenyum terpaksa sambil menggaruk garuk kepalaku yang tidak terasa gatal.
"mbak...setahu ning orang yang bunuh diri itu bakalan gentayangan ya karna belum di terima kematiannya oleh ALLOH,apa mungkin lia saat ini masih gentayangan?"

ia diam,tapi ku lihat mbak sari memutar mutarkan matanya lalu mendongakkan kepalanya seakan mengingat sesuatu.
"mungkin juga ya ning..."jawabnya kemudian.

"lama amat jawabnya mbak..."ucapku sambil membalikkan badan melanjutkan langkahku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri di tempat.

"eh tunggu ning..."teriaknya di iringi suara langkah kakinya yang berusaha mengejarku untuk mengimbangi lari kecilku.

"kamu beneran lihat gadis di sore bergerimis itu wajahnya mirip lia anak bosnya mang asep tadi?"tanya mbak lia menyelidik dengan wajah serius.

aku menghentikan lariku,di susul mbak sari yang juga menghentikan larinya.aku memasang wajah serius menatap mbak sari yang dengan jelas menanti jawaban dariku.

"mau tau aja atau mau tau banget?"jawabku selang beberapa detik kemudian di iringi suara tawa terbahakku yang mendapati mbak sari dengan muka serius menatap diriku menunggu jawabanku atas pertanyaannya.
lagi lagi aku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri dengan wajah manyun mendengar jawabanku yang mencandainya.

"banget...banget...banget..."teriak mbak sari yang kemudian mengejar lariku.

"nanti malam akan ning kasih tau"jawabku sambil menjulurkan lidahku ke arahnya.

mbak sari tertawa terbahak melihat aksiku yang meledeknya.pagi itu kami tak menghiraukan tatapan beberapa mata yang tertuju pada kami atas tawa kami yang mungkin terbilang berlebihan buat mereka.

lantas apa yang membuat lia mengakiri hidupnya dengan sia sia?arghhhh biarlah itu menjadi rahasia bagi lia sendiri.

pikiranku menerawang,mengajakku menengok biduk masa lalu yang telah ku tutup rapat dalam memori otakku.sakit hati,kekecewaan,penghinaan,pengorbanan yang sia sia mengajarkanku banyak arti,dan sekarang aku tahu pesakitan adalah jembatan bagi diriku untuk menyebrangi kedewasaan ke tingkat yang lebih baik lagi.






Kamis, 04 Juli 2013

.:. Merah Jambu .:.

Diposting oleh Nayla Ahebich di 07.37 0 komentar
Lihatlah,
Malam mulai mengepakkan sayapnya
Ia telah menaklukkan sang jingga
Yang baru saja memamerkan keindahannya

Dan kaupun tahu,
Ini bukan masalah menang atau kalahkan?
Ini hanya perpindahan posisi
Yang telah di gariskan oleh SANG PENCIPTA
Dari siang...senja...lalu menjadi malam

Begitu juga dengan aku dan kau
Yang kemudian menjadi kita
Tapi tunggu dulu,
Ini bukan masalah hati
Dan kaupun tahu itu,
Melainkan sekumpulan cerita
Dari pertemuan,perkenalan,lalu menjadi persahabatan.

Indah bukan?
Laksana lukisan yang berdominan warna biru yang menggambarkan kedamaian
Dan aku suka!!!!
Tapi...
Sayang keindahan itu lenyap dalam sekejap
Saat kau mulai memaksa mengoreskan warna merah jambu ke dalam kanvasku
"Aku tidak mau"jawabku
"Aku maunya seperti itu"tegasmu

Kita mulai terseok,
Aku memilih diamku dan kau dengan tumpukan kecewamu
Tak ada lagi cerita...adu argumen...ataupun gelak tawa...
Senyap...
Duniaku duniaku dan duniamu duniamu...

Bisikku,
Maafkan aku yang tak pernah bisa memadukan merah jambumu ke dalam lukisanku

Senin, 01 Juli 2013

.:. Perlombaan Pertamaku .:.

Diposting oleh Nayla Ahebich di 20.54 0 komentar
"aku tak mau ke sana pak''ucapku sambil menangis.
"kenapa tho nduk?bukannya kamu malah senang bisa terpilih menjadi murid yang terbaik di sekolahmu untuk mewakili sekolahmu berlomba?"tanya bapakku sambil mendekat ke arahku.
aku terus menangis tanpa mempedulikan pertanyaan bapakku,aku sendiri tak tau kenapa aku begitu takut pergi ke tempat itu.bukannya aku kemarin sudah ke sana.bukannya aku sudah besar.bukannya aku sudah saatnya belajar pergi kemana mana sendiri tanpa pengawasan orang tua.tapi kenapa rasa takut dan rasa minder selalu menghantui setiap langkahku.
"apa kamu takut bukan yang terbaik nantinya?atau ada teman yang mengolok olok kamu nduk?"tanyanya sekali lagi kepadaku.
aku menatap wajah bapakku sambil menggelengkan kepalaku,
"lantas apa yang membuatmu tak mau ikut lomba?seharusnya kamu bangga nduk bisa terpilih untuk mewakili sekolahmu berlomba di tempat itu.banyak anak anak lain yang ingin seperti kamu tapi tak berkesempatan.ingat nduk dalam perlombaan kita memang di wajibkan untuk berusaha menjadi yang pertama yang di sebut pemenang tapi kamu juga harus berlapang dada jika memang tidak bisa menjadi yang pertama yang terpenting modal utama adalah ikut berlomba,berusaha dan do'a.menang atau kalah itu sudah hal yang biasa dalam sebuah perlombaan"tambah bapakku kemudian,
"bukan soal itu pak"
"lantas kenapa nduk?"
"aku takut pulang naik angkot sendiri pak"jawabku lirih sambil menghapus airmata yang jatuh ke pipiku.bapakku tertawa mendengar jawaban dariku,dia mendekat ke arahku dan mengelus ngelus rambutku. aku hanya menunduk sambil mengusap sisa sia airmata di sekitar pipiku.
"nduk...apa yang kamu takutkan kalau naik angkot sendiri,kan kemarin udah naik angkot sendiri dan kamu juga pulang dengan selamat kan baik baik aja?"tanya bapakku menyelidik."apa perlu bapak buatin oncor atau bawa senter biar gak takut lagi?"tambahnya menggoda.
Ya,ucapan itulah yang selalu bapakku lontarkan di kala  aku mengeluh takut,karna dia tahu aku paling takut di tempat yang gelap.tapi kali ini bukan itu yang ku takutkan.bukan tempat yang gelap tapi keisengan keisengan kakak kakak laki laki yang sering nongkrong di tempat angkot.
"bapak...ngoda mulu,,,"jawabku sambil merajuk dan memukul mukul ringan tangan bapakku.bapakku tertawa sambil mencoba menghindar dari pukulanku.ku lihat dia berjalan menuju ke arah meja dan mengambil secangkir kopi lalu meneguknya sambil menatap ke arahku.
"kamu udah gede,gak usah takut gak usah malu gak usah minder"
"iya nduk gak usah takut atau begini saja biar besok bapakmu yang jemput kamu ke tempat perlombaan kamu,nanti uang transportasi yang sekolahan berikan ke kamu biar bisa kamu tabung"ibuku yang sedari tadi sibuk menyelesaikan jahitan baju akhirnya angkat bicara dan membujukku.
Aku diam sejenak mencoba membayangkan jarak rumahku dengan tempatku berlomba.dan itu merupakan bilangan jauh menurut perhitunganku sedangkan bapak tidak punya sepeda motor apa mungkin naik angkot,atau jangan jangan naik sepeda pancal seperti biasanya,bukanya aku malu jika bapak menjemputuku dengan sepeda buntutnya tapi aku hanya merasa kasihan jika beliau harus menaiki sepeda itu ke tempat yang cukup jauh,di tambah lagi pulangnya harus memboncengku.
"kok malah diam,bagaimana setuju gak ma tawaran ibu"tanya ibuku membuyarkan lamunanku.
"tapi kan jauh bu...memangnya mau naik apa jemputnya"
"naik sepeda bapakmu tuh"jawabnya sambil menunjuk ke arah sepeda yang di senderkan tak jauh dari tempat kami berbincang.
"tuh kan benar dugaanku"bisikku dalam hati.
"tapi kan jauh bu...nanti bapak capek."
"gak apa apa besok bapak pulang dari sawahnya lebih awal biar bapak yang jemput kamu aja supaya kamu gak takut da tetep mau ikut berlomba"
"tapi kan jauh pak..."bantahku sekali lagi.
bapak tersenyum ke arahku lalu meneguk kembali secangkir kopi yang berada di tangannya.
"yang penting kamu tetap ikut lomba nduk,apa artinya capek buat bapak kalau anak bapak adalah anak yang pintar"ucapnya kemudian.
aku tersipu malu mendengar ucapan bapak,ku lihat ibu tersenyum ke arahku lalu duduk di sampingku dan mengelus rambutku.
"kami bahagia dan bersyukur punya anak pintar sepertimu nduk"ucapnya kemudian.
"aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kalian pak bu"

***

Template by:
Free Blog Templates