Aku masih saja menikmati rintik hujan dari teras rumah meski udara dingin mulai terasa menusuk kulit,dengan di temani segelas susu hangat kesukaanku akupun enggan meninggalkan kursi usang tempatku bersandar.
mungkin juga karena rasa penat dan bosan yang menguasai pikiranku membuatku betah berlama lama menikmati pekat malam sendirian.
Malam...hmmmm aku menyukai malam,entah kenapa aku sendiri tak tau jelas sebabnya,kondisi ini sangat tidak sinkron dengan aku yang dulu,dulu aku hanyalah wanita penakut yang sangat benci dengan kegelapan dan kesenyapan.
"ah sudahlah lupakan saja semua itu"bisik hati kecilku sendiri.
Aku mulai teringat kejadian beberapa hari yang lalu yang menurutku janggal dan tidak biasanya,gadis itu...ya gadis itu aku melihat gadis bergaun kusam itu dengan jelas tersenyum ke arah kami,saat rombongan kami melewati rumah kecil yang berada di tepian jalan masuk ke rumah yang telah kami sewa,namun ketika ku tanyakan kepada sari teman serombonganku saat itu seakan akan ia tidak mengetahui keberadaannya padahal menurut aku jarak kami dengan gadis itu sangat dekat sekali saat kami berjalan melewatinya.
"udahlah ning lupain ajja, kali aja kamu salah lihat"ucap mbak sari meyakinkanku
"tapi beneran lho mbak tadi aku ngeliat gadis bergaun kusam berdiri di samping jalan yang tadi kita lewati mbak,masak cuma ketutupan gerimis aja mbak sari gak isa lihat"tuturku dengan nada kesal.
ku lihat mbak sari tertawa ke arahku sambil menyambar bantal dan melemparkannya ke arahku,kontan saja dengan sigap aku menghindari lemparan bantal darinya sambil bersungut sungut menuju ke ranjang untuk rebahan."di bilangin ada gadis kok gak percaya"
"gitu ajja marah,tahu gak ning kayaknya kesukaan kamu buat nonton film horror harus segera di hentikan kalau nggak pikiran horror hasil dari tontonan kamu itu bisa bisa buat kamu jadi paranoid tuh.itu rumah kosong udah lama sejak setahun yang lalu ning,kalau kamu gak percaya besok kita tanyakan mang asep yang bekerja menjaga rumah itu."
***
"selamat pagi mang"
"pagi eneng sari,hayu lebet.aya naon nya isuk isuk ka die?"ucapnya sambil mempersilahkan kami masuk.
Aku hanya diam sambil mendengarkan mbak sari berbicara kepada mang asep mengenai perihal kedatangan kami pagi itu,secara akupun tak begitu menguasai bahasa sunda yang sedang mereka gunakan untuk berbicara.akupun mengikuti langkah mereka menuju sebuah ruangan kecil yang berdesain elegan dan indah.lalu mang asep mempersilahkan kami duduk ke sebuah kursi yang berada di tengah tengah ruangan itu, sesaat sesudahnya iapun beranjak pergi ke belakang yang aku sendiri tak tau kemana dia pergi.
Aku melihat ke sekeliling ruangan itu,entahlah ada perasaan aneh yang ku rasakan saat aku memasukinya,perasaan sedih tiba tiba saja menyergap hatiku.aku terus melihat ruangan itu sambil menata perasaanku yang menurutku sendiri tiba tiba aneh.debaran halus yang aku tak tau kenapa tiba tiba saja bergelayut dalam jantungku.
Tanpa sengaja mataku menangkap ke sebuah bingkai photo keluarga yang tertempel di dinding yang tidak jauh dari tempat aku dan mbak sari duduki saat itu.aku tertegun sesaat menatap wajah wajah yang terpampang di bingkai itu,wajah yang aku lihat sore itupun ada di antara photo photo itu.tapi wajahnya sungguh jauh berbeda dari yg pernah ku lihat.di photo itu ia nampak begitu ceria dan cantik dengan rambut lurus yang terjuntai sampai ke bahunya.
"deg"jantungku terasa mau berhenti saat mataku menangkap wajah itu seakan akan tersenyum ke arahku,namun cepat cepat ku kuasai perasaanku kembali."jangan parno gak ada makluk halus pagi pagi kayak gini"bisik batinku seorang diri
Sesaat kemudian mang asep muncul dengan membawa baki yang berisi teh manis di tanganya.ia lalu mempersilahkan kami untuk meminumnya sembari mengambil tempat duduk di sebelah kami.
"ning sari udah lama di sini"
"baru kemarin mang"
"pantas waktu kemarin mamang ke sini rumah sebelah itu masih kosong juga.ini adiknya ning sari?"tanya mang asep sambil melihat ke arahku dan akupun mengangguk sembari tersenyum sebagai sapaan penghormatan kepadanya.
"oh ini"ucap mbak sari sambil menepuk lirih tanganku."ini teman saya dari jawa mang" lanjutnya sambil menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap mang asep."namanya ningsih..."tambah mbak sari menjelaskan.
"kalian lagi liburan di sini ya?"tanyanya sambil melihat ke arahku.
"iya mang"jawabku singkat sambil tersenyum ke arahnya.
"mamang di rumah ini sendiri"tanyaku kemudian.
"mamang bersama istri mamang biasanya,cuma hari ini dia lagi mudik soalnya orang tuanya ada yang sakit,kalu mamang gak bisa pulang karna rumah ini gak boleh di kosongin soalnya besok mau ada tamu liburan ke sini juga ning"
aku mengangguk angguk tanda mengerti dengan ucapannya.
"tadi kalian lari lari pagi kemana ajja?"
"cuma ke sekitar sini ajja mang,sekalian nunjukin si ning daerah sekitar sini aja"jawab mbak sari
"iya suruh sari nunjukin tempat bagus sekitar sini dia udah tau semua kayaknya,ning sari sering ke sini,mamang kenal ning sari nih dari istri mamang soalnya ning sari nih orangnya baik suka bantuin istri mamang bawa belanjaan kalau bertemu dia pas pulang dari olahraga pagi"
"ha ha ha...sekalian olahraga tangan mang"ucap mbak sari menimpali perkataan mang asep,akupun tersenyum melihat mereka berdua yang ternyata udah kenal cukup lama.
"oh ya mang gadis yang di photo itu sering ke sini juga?"tanyaku sambil menunjuk ke arah photo yang tergantung di tembok sebelah kami duduk
"yang kamu maksud ning lia?dia udah berpulang sekitar 6 bulan yang lalu"jawabnya sambil menunduk sedih
"deg"jantungku benar benar terasa mau berhenti dan aku menatap mbak sari sambil mengerutkan keningku ke arahnya yg seketika perasaan takut tiba tiba menyusup lagi ke pikiranku.
"ning lia udah gak ada di dunia ini lagi,dia udah pergi,kasihan dia entah apa yang ada di benaknya hingga ia mengakiri hidupnya sendiri saat berada di rumah ini,padahal setahu mamang ning lia gak pernah punya masalah sama temannya anaknya juga baik"tambah mang asep menjelaskan sambil menarik nafas berat.
"ning mohon maaf mang,ning gak bermaksud membuat sedih mamang"
"mamang sari mohon pamit aja ya,lagian udah siang juga kapan kapan sari main lagi ke sini"ucap mbak sari sambil menarik tanganku mengajak berdiri.
"kok buru buru ning sari"
"gak kok mang kitanya udah lama,makasih jamuan tehnya mang"
"assalamualaikum mang"ucap kami sembari melangkah keluar pintu rumah itu.
"alaikusalam"balasnya kemudian.
***
Aku hanya diam di sepanjang perjalanan menuju rumah penginapan yang kami tempati.sejuta pertanyaan menghampiri otakku yang pagi itu mengingat ucapan mang asep mengenai lia pada kami.lia,iya lia namanya lia.gadis bergaun kusam itu bernama lia.lalu kenapa ia harus bunuh diri?benarkah gadis yang ku lihat di sore bergerimis itu lia?jika ia bukan lia kenapa wajahnya begitu mirip dengan photo yang ku lihat di rumah itu,jika ia benar benar lia bukankah orang yang sudah meninggal akan kembali ke sisi-NYA,atau yang ku lihat sore itu hanya jin kafir yang menyerupai wajah lia.aku terus saja mengajak otakku bekerja mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri.
"nglamun aja,gak baik ning pagi pagi nglamun ntar kesambet setan lho"tegur mbak sari mengagetkanku.
"sapa yang nglamun mbak...orang aku lagi mikirin sesuatu..."elakku sambil mencubit pinggangnya.
"apa itu bukan sama saja dengan melamun?"
"ya nggaklah...kalau melamun kan mengosongkan pikiran kalau berfikir mempekerjakan pikiran"
mbak sari tertawa tebahak mendengar jawabanku.
"bisa aja kamu ning..."
"eh mbak...kalau orang bunuh diri itu gak di terima di sisi ALLOH ya?"
"iya benar..."
"Lalu mereka di mana?"tanyaku memburu.
"di mana ya,ntar aku tanya ma ustadku dulu ya ning...kamu kok tanyanya aneh aneh mang mau ngobrolin apa?"jawab mbak sari sambil menghentikan langkahnya dan mengerutkan dahinya menatapku.
"he...he...he..."aku tersenyum terpaksa sambil menggaruk garuk kepalaku yang tidak terasa gatal.
"mbak...setahu ning orang yang bunuh diri itu bakalan gentayangan ya karna belum di terima kematiannya oleh ALLOH,apa mungkin lia saat ini masih gentayangan?"
ia diam,tapi ku lihat mbak sari memutar mutarkan matanya lalu mendongakkan kepalanya seakan mengingat sesuatu.
"mungkin juga ya ning..."jawabnya kemudian.
"lama amat jawabnya mbak..."ucapku sambil membalikkan badan melanjutkan langkahku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri di tempat.
"eh tunggu ning..."teriaknya di iringi suara langkah kakinya yang berusaha mengejarku untuk mengimbangi lari kecilku.
"kamu beneran lihat gadis di sore bergerimis itu wajahnya mirip lia anak bosnya mang asep tadi?"tanya mbak lia menyelidik dengan wajah serius.
aku menghentikan lariku,di susul mbak sari yang juga menghentikan larinya.aku memasang wajah serius menatap mbak sari yang dengan jelas menanti jawaban dariku.
"mau tau aja atau mau tau banget?"jawabku selang beberapa detik kemudian di iringi suara tawa terbahakku yang mendapati mbak sari dengan muka serius menatap diriku menunggu jawabanku atas pertanyaannya.
lagi lagi aku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri dengan wajah manyun mendengar jawabanku yang mencandainya.
"banget...banget...banget..."teriak mbak sari yang kemudian mengejar lariku.
"nanti malam akan ning kasih tau"jawabku sambil menjulurkan lidahku ke arahnya.
mbak sari tertawa terbahak melihat aksiku yang meledeknya.pagi itu kami tak menghiraukan tatapan beberapa mata yang tertuju pada kami atas tawa kami yang mungkin terbilang berlebihan buat mereka.
lantas apa yang membuat lia mengakiri hidupnya dengan sia sia?arghhhh biarlah itu menjadi rahasia bagi lia sendiri.
pikiranku menerawang,mengajakku menengok biduk masa lalu yang telah ku tutup rapat dalam memori otakku.sakit hati,kekecewaan,penghinaan,pengorbanan yang sia sia mengajarkanku banyak arti,dan sekarang aku tahu pesakitan adalah jembatan bagi diriku untuk menyebrangi kedewasaan ke tingkat yang lebih baik lagi.
Senin, 12 Agustus 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Senin, 12 Agustus 2013
.:. Gadis Bergaun Kusam .:.
Aku masih saja menikmati rintik hujan dari teras rumah meski udara dingin mulai terasa menusuk kulit,dengan di temani segelas susu hangat kesukaanku akupun enggan meninggalkan kursi usang tempatku bersandar.
mungkin juga karena rasa penat dan bosan yang menguasai pikiranku membuatku betah berlama lama menikmati pekat malam sendirian.
Malam...hmmmm aku menyukai malam,entah kenapa aku sendiri tak tau jelas sebabnya,kondisi ini sangat tidak sinkron dengan aku yang dulu,dulu aku hanyalah wanita penakut yang sangat benci dengan kegelapan dan kesenyapan.
"ah sudahlah lupakan saja semua itu"bisik hati kecilku sendiri.
Aku mulai teringat kejadian beberapa hari yang lalu yang menurutku janggal dan tidak biasanya,gadis itu...ya gadis itu aku melihat gadis bergaun kusam itu dengan jelas tersenyum ke arah kami,saat rombongan kami melewati rumah kecil yang berada di tepian jalan masuk ke rumah yang telah kami sewa,namun ketika ku tanyakan kepada sari teman serombonganku saat itu seakan akan ia tidak mengetahui keberadaannya padahal menurut aku jarak kami dengan gadis itu sangat dekat sekali saat kami berjalan melewatinya.
"udahlah ning lupain ajja, kali aja kamu salah lihat"ucap mbak sari meyakinkanku
"tapi beneran lho mbak tadi aku ngeliat gadis bergaun kusam berdiri di samping jalan yang tadi kita lewati mbak,masak cuma ketutupan gerimis aja mbak sari gak isa lihat"tuturku dengan nada kesal.
ku lihat mbak sari tertawa ke arahku sambil menyambar bantal dan melemparkannya ke arahku,kontan saja dengan sigap aku menghindari lemparan bantal darinya sambil bersungut sungut menuju ke ranjang untuk rebahan."di bilangin ada gadis kok gak percaya"
"gitu ajja marah,tahu gak ning kayaknya kesukaan kamu buat nonton film horror harus segera di hentikan kalau nggak pikiran horror hasil dari tontonan kamu itu bisa bisa buat kamu jadi paranoid tuh.itu rumah kosong udah lama sejak setahun yang lalu ning,kalau kamu gak percaya besok kita tanyakan mang asep yang bekerja menjaga rumah itu."
***
"selamat pagi mang"
"pagi eneng sari,hayu lebet.aya naon nya isuk isuk ka die?"ucapnya sambil mempersilahkan kami masuk.
Aku hanya diam sambil mendengarkan mbak sari berbicara kepada mang asep mengenai perihal kedatangan kami pagi itu,secara akupun tak begitu menguasai bahasa sunda yang sedang mereka gunakan untuk berbicara.akupun mengikuti langkah mereka menuju sebuah ruangan kecil yang berdesain elegan dan indah.lalu mang asep mempersilahkan kami duduk ke sebuah kursi yang berada di tengah tengah ruangan itu, sesaat sesudahnya iapun beranjak pergi ke belakang yang aku sendiri tak tau kemana dia pergi.
Aku melihat ke sekeliling ruangan itu,entahlah ada perasaan aneh yang ku rasakan saat aku memasukinya,perasaan sedih tiba tiba saja menyergap hatiku.aku terus melihat ruangan itu sambil menata perasaanku yang menurutku sendiri tiba tiba aneh.debaran halus yang aku tak tau kenapa tiba tiba saja bergelayut dalam jantungku.
Tanpa sengaja mataku menangkap ke sebuah bingkai photo keluarga yang tertempel di dinding yang tidak jauh dari tempat aku dan mbak sari duduki saat itu.aku tertegun sesaat menatap wajah wajah yang terpampang di bingkai itu,wajah yang aku lihat sore itupun ada di antara photo photo itu.tapi wajahnya sungguh jauh berbeda dari yg pernah ku lihat.di photo itu ia nampak begitu ceria dan cantik dengan rambut lurus yang terjuntai sampai ke bahunya.
"deg"jantungku terasa mau berhenti saat mataku menangkap wajah itu seakan akan tersenyum ke arahku,namun cepat cepat ku kuasai perasaanku kembali."jangan parno gak ada makluk halus pagi pagi kayak gini"bisik batinku seorang diri
Sesaat kemudian mang asep muncul dengan membawa baki yang berisi teh manis di tanganya.ia lalu mempersilahkan kami untuk meminumnya sembari mengambil tempat duduk di sebelah kami.
"ning sari udah lama di sini"
"baru kemarin mang"
"pantas waktu kemarin mamang ke sini rumah sebelah itu masih kosong juga.ini adiknya ning sari?"tanya mang asep sambil melihat ke arahku dan akupun mengangguk sembari tersenyum sebagai sapaan penghormatan kepadanya.
"oh ini"ucap mbak sari sambil menepuk lirih tanganku."ini teman saya dari jawa mang" lanjutnya sambil menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap mang asep."namanya ningsih..."tambah mbak sari menjelaskan.
"kalian lagi liburan di sini ya?"tanyanya sambil melihat ke arahku.
"iya mang"jawabku singkat sambil tersenyum ke arahnya.
"mamang di rumah ini sendiri"tanyaku kemudian.
"mamang bersama istri mamang biasanya,cuma hari ini dia lagi mudik soalnya orang tuanya ada yang sakit,kalu mamang gak bisa pulang karna rumah ini gak boleh di kosongin soalnya besok mau ada tamu liburan ke sini juga ning"
aku mengangguk angguk tanda mengerti dengan ucapannya.
"tadi kalian lari lari pagi kemana ajja?"
"cuma ke sekitar sini ajja mang,sekalian nunjukin si ning daerah sekitar sini aja"jawab mbak sari
"iya suruh sari nunjukin tempat bagus sekitar sini dia udah tau semua kayaknya,ning sari sering ke sini,mamang kenal ning sari nih dari istri mamang soalnya ning sari nih orangnya baik suka bantuin istri mamang bawa belanjaan kalau bertemu dia pas pulang dari olahraga pagi"
"ha ha ha...sekalian olahraga tangan mang"ucap mbak sari menimpali perkataan mang asep,akupun tersenyum melihat mereka berdua yang ternyata udah kenal cukup lama.
"oh ya mang gadis yang di photo itu sering ke sini juga?"tanyaku sambil menunjuk ke arah photo yang tergantung di tembok sebelah kami duduk
"yang kamu maksud ning lia?dia udah berpulang sekitar 6 bulan yang lalu"jawabnya sambil menunduk sedih
"deg"jantungku benar benar terasa mau berhenti dan aku menatap mbak sari sambil mengerutkan keningku ke arahnya yg seketika perasaan takut tiba tiba menyusup lagi ke pikiranku.
"ning lia udah gak ada di dunia ini lagi,dia udah pergi,kasihan dia entah apa yang ada di benaknya hingga ia mengakiri hidupnya sendiri saat berada di rumah ini,padahal setahu mamang ning lia gak pernah punya masalah sama temannya anaknya juga baik"tambah mang asep menjelaskan sambil menarik nafas berat.
"ning mohon maaf mang,ning gak bermaksud membuat sedih mamang"
"mamang sari mohon pamit aja ya,lagian udah siang juga kapan kapan sari main lagi ke sini"ucap mbak sari sambil menarik tanganku mengajak berdiri.
"kok buru buru ning sari"
"gak kok mang kitanya udah lama,makasih jamuan tehnya mang"
"assalamualaikum mang"ucap kami sembari melangkah keluar pintu rumah itu.
"alaikusalam"balasnya kemudian.
***
Aku hanya diam di sepanjang perjalanan menuju rumah penginapan yang kami tempati.sejuta pertanyaan menghampiri otakku yang pagi itu mengingat ucapan mang asep mengenai lia pada kami.lia,iya lia namanya lia.gadis bergaun kusam itu bernama lia.lalu kenapa ia harus bunuh diri?benarkah gadis yang ku lihat di sore bergerimis itu lia?jika ia bukan lia kenapa wajahnya begitu mirip dengan photo yang ku lihat di rumah itu,jika ia benar benar lia bukankah orang yang sudah meninggal akan kembali ke sisi-NYA,atau yang ku lihat sore itu hanya jin kafir yang menyerupai wajah lia.aku terus saja mengajak otakku bekerja mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri.
"nglamun aja,gak baik ning pagi pagi nglamun ntar kesambet setan lho"tegur mbak sari mengagetkanku.
"sapa yang nglamun mbak...orang aku lagi mikirin sesuatu..."elakku sambil mencubit pinggangnya.
"apa itu bukan sama saja dengan melamun?"
"ya nggaklah...kalau melamun kan mengosongkan pikiran kalau berfikir mempekerjakan pikiran"
mbak sari tertawa tebahak mendengar jawabanku.
"bisa aja kamu ning..."
"eh mbak...kalau orang bunuh diri itu gak di terima di sisi ALLOH ya?"
"iya benar..."
"Lalu mereka di mana?"tanyaku memburu.
"di mana ya,ntar aku tanya ma ustadku dulu ya ning...kamu kok tanyanya aneh aneh mang mau ngobrolin apa?"jawab mbak sari sambil menghentikan langkahnya dan mengerutkan dahinya menatapku.
"he...he...he..."aku tersenyum terpaksa sambil menggaruk garuk kepalaku yang tidak terasa gatal.
"mbak...setahu ning orang yang bunuh diri itu bakalan gentayangan ya karna belum di terima kematiannya oleh ALLOH,apa mungkin lia saat ini masih gentayangan?"
ia diam,tapi ku lihat mbak sari memutar mutarkan matanya lalu mendongakkan kepalanya seakan mengingat sesuatu.
"mungkin juga ya ning..."jawabnya kemudian.
"lama amat jawabnya mbak..."ucapku sambil membalikkan badan melanjutkan langkahku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri di tempat.
"eh tunggu ning..."teriaknya di iringi suara langkah kakinya yang berusaha mengejarku untuk mengimbangi lari kecilku.
"kamu beneran lihat gadis di sore bergerimis itu wajahnya mirip lia anak bosnya mang asep tadi?"tanya mbak lia menyelidik dengan wajah serius.
aku menghentikan lariku,di susul mbak sari yang juga menghentikan larinya.aku memasang wajah serius menatap mbak sari yang dengan jelas menanti jawaban dariku.
"mau tau aja atau mau tau banget?"jawabku selang beberapa detik kemudian di iringi suara tawa terbahakku yang mendapati mbak sari dengan muka serius menatap diriku menunggu jawabanku atas pertanyaannya.
lagi lagi aku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri dengan wajah manyun mendengar jawabanku yang mencandainya.
"banget...banget...banget..."teriak mbak sari yang kemudian mengejar lariku.
"nanti malam akan ning kasih tau"jawabku sambil menjulurkan lidahku ke arahnya.
mbak sari tertawa terbahak melihat aksiku yang meledeknya.pagi itu kami tak menghiraukan tatapan beberapa mata yang tertuju pada kami atas tawa kami yang mungkin terbilang berlebihan buat mereka.
lantas apa yang membuat lia mengakiri hidupnya dengan sia sia?arghhhh biarlah itu menjadi rahasia bagi lia sendiri.
pikiranku menerawang,mengajakku menengok biduk masa lalu yang telah ku tutup rapat dalam memori otakku.sakit hati,kekecewaan,penghinaan,pengorbanan yang sia sia mengajarkanku banyak arti,dan sekarang aku tahu pesakitan adalah jembatan bagi diriku untuk menyebrangi kedewasaan ke tingkat yang lebih baik lagi.
mungkin juga karena rasa penat dan bosan yang menguasai pikiranku membuatku betah berlama lama menikmati pekat malam sendirian.
Malam...hmmmm aku menyukai malam,entah kenapa aku sendiri tak tau jelas sebabnya,kondisi ini sangat tidak sinkron dengan aku yang dulu,dulu aku hanyalah wanita penakut yang sangat benci dengan kegelapan dan kesenyapan.
"ah sudahlah lupakan saja semua itu"bisik hati kecilku sendiri.
Aku mulai teringat kejadian beberapa hari yang lalu yang menurutku janggal dan tidak biasanya,gadis itu...ya gadis itu aku melihat gadis bergaun kusam itu dengan jelas tersenyum ke arah kami,saat rombongan kami melewati rumah kecil yang berada di tepian jalan masuk ke rumah yang telah kami sewa,namun ketika ku tanyakan kepada sari teman serombonganku saat itu seakan akan ia tidak mengetahui keberadaannya padahal menurut aku jarak kami dengan gadis itu sangat dekat sekali saat kami berjalan melewatinya.
"udahlah ning lupain ajja, kali aja kamu salah lihat"ucap mbak sari meyakinkanku
"tapi beneran lho mbak tadi aku ngeliat gadis bergaun kusam berdiri di samping jalan yang tadi kita lewati mbak,masak cuma ketutupan gerimis aja mbak sari gak isa lihat"tuturku dengan nada kesal.
ku lihat mbak sari tertawa ke arahku sambil menyambar bantal dan melemparkannya ke arahku,kontan saja dengan sigap aku menghindari lemparan bantal darinya sambil bersungut sungut menuju ke ranjang untuk rebahan."di bilangin ada gadis kok gak percaya"
"gitu ajja marah,tahu gak ning kayaknya kesukaan kamu buat nonton film horror harus segera di hentikan kalau nggak pikiran horror hasil dari tontonan kamu itu bisa bisa buat kamu jadi paranoid tuh.itu rumah kosong udah lama sejak setahun yang lalu ning,kalau kamu gak percaya besok kita tanyakan mang asep yang bekerja menjaga rumah itu."
***
"selamat pagi mang"
"pagi eneng sari,hayu lebet.aya naon nya isuk isuk ka die?"ucapnya sambil mempersilahkan kami masuk.
Aku hanya diam sambil mendengarkan mbak sari berbicara kepada mang asep mengenai perihal kedatangan kami pagi itu,secara akupun tak begitu menguasai bahasa sunda yang sedang mereka gunakan untuk berbicara.akupun mengikuti langkah mereka menuju sebuah ruangan kecil yang berdesain elegan dan indah.lalu mang asep mempersilahkan kami duduk ke sebuah kursi yang berada di tengah tengah ruangan itu, sesaat sesudahnya iapun beranjak pergi ke belakang yang aku sendiri tak tau kemana dia pergi.
Aku melihat ke sekeliling ruangan itu,entahlah ada perasaan aneh yang ku rasakan saat aku memasukinya,perasaan sedih tiba tiba saja menyergap hatiku.aku terus melihat ruangan itu sambil menata perasaanku yang menurutku sendiri tiba tiba aneh.debaran halus yang aku tak tau kenapa tiba tiba saja bergelayut dalam jantungku.
Tanpa sengaja mataku menangkap ke sebuah bingkai photo keluarga yang tertempel di dinding yang tidak jauh dari tempat aku dan mbak sari duduki saat itu.aku tertegun sesaat menatap wajah wajah yang terpampang di bingkai itu,wajah yang aku lihat sore itupun ada di antara photo photo itu.tapi wajahnya sungguh jauh berbeda dari yg pernah ku lihat.di photo itu ia nampak begitu ceria dan cantik dengan rambut lurus yang terjuntai sampai ke bahunya.
"deg"jantungku terasa mau berhenti saat mataku menangkap wajah itu seakan akan tersenyum ke arahku,namun cepat cepat ku kuasai perasaanku kembali."jangan parno gak ada makluk halus pagi pagi kayak gini"bisik batinku seorang diri
Sesaat kemudian mang asep muncul dengan membawa baki yang berisi teh manis di tanganya.ia lalu mempersilahkan kami untuk meminumnya sembari mengambil tempat duduk di sebelah kami.
"ning sari udah lama di sini"
"baru kemarin mang"
"pantas waktu kemarin mamang ke sini rumah sebelah itu masih kosong juga.ini adiknya ning sari?"tanya mang asep sambil melihat ke arahku dan akupun mengangguk sembari tersenyum sebagai sapaan penghormatan kepadanya.
"oh ini"ucap mbak sari sambil menepuk lirih tanganku."ini teman saya dari jawa mang" lanjutnya sambil menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap mang asep."namanya ningsih..."tambah mbak sari menjelaskan.
"kalian lagi liburan di sini ya?"tanyanya sambil melihat ke arahku.
"iya mang"jawabku singkat sambil tersenyum ke arahnya.
"mamang di rumah ini sendiri"tanyaku kemudian.
"mamang bersama istri mamang biasanya,cuma hari ini dia lagi mudik soalnya orang tuanya ada yang sakit,kalu mamang gak bisa pulang karna rumah ini gak boleh di kosongin soalnya besok mau ada tamu liburan ke sini juga ning"
aku mengangguk angguk tanda mengerti dengan ucapannya.
"tadi kalian lari lari pagi kemana ajja?"
"cuma ke sekitar sini ajja mang,sekalian nunjukin si ning daerah sekitar sini aja"jawab mbak sari
"iya suruh sari nunjukin tempat bagus sekitar sini dia udah tau semua kayaknya,ning sari sering ke sini,mamang kenal ning sari nih dari istri mamang soalnya ning sari nih orangnya baik suka bantuin istri mamang bawa belanjaan kalau bertemu dia pas pulang dari olahraga pagi"
"ha ha ha...sekalian olahraga tangan mang"ucap mbak sari menimpali perkataan mang asep,akupun tersenyum melihat mereka berdua yang ternyata udah kenal cukup lama.
"oh ya mang gadis yang di photo itu sering ke sini juga?"tanyaku sambil menunjuk ke arah photo yang tergantung di tembok sebelah kami duduk
"yang kamu maksud ning lia?dia udah berpulang sekitar 6 bulan yang lalu"jawabnya sambil menunduk sedih
"deg"jantungku benar benar terasa mau berhenti dan aku menatap mbak sari sambil mengerutkan keningku ke arahnya yg seketika perasaan takut tiba tiba menyusup lagi ke pikiranku.
"ning lia udah gak ada di dunia ini lagi,dia udah pergi,kasihan dia entah apa yang ada di benaknya hingga ia mengakiri hidupnya sendiri saat berada di rumah ini,padahal setahu mamang ning lia gak pernah punya masalah sama temannya anaknya juga baik"tambah mang asep menjelaskan sambil menarik nafas berat.
"ning mohon maaf mang,ning gak bermaksud membuat sedih mamang"
"mamang sari mohon pamit aja ya,lagian udah siang juga kapan kapan sari main lagi ke sini"ucap mbak sari sambil menarik tanganku mengajak berdiri.
"kok buru buru ning sari"
"gak kok mang kitanya udah lama,makasih jamuan tehnya mang"
"assalamualaikum mang"ucap kami sembari melangkah keluar pintu rumah itu.
"alaikusalam"balasnya kemudian.
***
Aku hanya diam di sepanjang perjalanan menuju rumah penginapan yang kami tempati.sejuta pertanyaan menghampiri otakku yang pagi itu mengingat ucapan mang asep mengenai lia pada kami.lia,iya lia namanya lia.gadis bergaun kusam itu bernama lia.lalu kenapa ia harus bunuh diri?benarkah gadis yang ku lihat di sore bergerimis itu lia?jika ia bukan lia kenapa wajahnya begitu mirip dengan photo yang ku lihat di rumah itu,jika ia benar benar lia bukankah orang yang sudah meninggal akan kembali ke sisi-NYA,atau yang ku lihat sore itu hanya jin kafir yang menyerupai wajah lia.aku terus saja mengajak otakku bekerja mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri.
"nglamun aja,gak baik ning pagi pagi nglamun ntar kesambet setan lho"tegur mbak sari mengagetkanku.
"sapa yang nglamun mbak...orang aku lagi mikirin sesuatu..."elakku sambil mencubit pinggangnya.
"apa itu bukan sama saja dengan melamun?"
"ya nggaklah...kalau melamun kan mengosongkan pikiran kalau berfikir mempekerjakan pikiran"
mbak sari tertawa tebahak mendengar jawabanku.
"bisa aja kamu ning..."
"eh mbak...kalau orang bunuh diri itu gak di terima di sisi ALLOH ya?"
"iya benar..."
"Lalu mereka di mana?"tanyaku memburu.
"di mana ya,ntar aku tanya ma ustadku dulu ya ning...kamu kok tanyanya aneh aneh mang mau ngobrolin apa?"jawab mbak sari sambil menghentikan langkahnya dan mengerutkan dahinya menatapku.
"he...he...he..."aku tersenyum terpaksa sambil menggaruk garuk kepalaku yang tidak terasa gatal.
"mbak...setahu ning orang yang bunuh diri itu bakalan gentayangan ya karna belum di terima kematiannya oleh ALLOH,apa mungkin lia saat ini masih gentayangan?"
ia diam,tapi ku lihat mbak sari memutar mutarkan matanya lalu mendongakkan kepalanya seakan mengingat sesuatu.
"mungkin juga ya ning..."jawabnya kemudian.
"lama amat jawabnya mbak..."ucapku sambil membalikkan badan melanjutkan langkahku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri di tempat.
"eh tunggu ning..."teriaknya di iringi suara langkah kakinya yang berusaha mengejarku untuk mengimbangi lari kecilku.
"kamu beneran lihat gadis di sore bergerimis itu wajahnya mirip lia anak bosnya mang asep tadi?"tanya mbak lia menyelidik dengan wajah serius.
aku menghentikan lariku,di susul mbak sari yang juga menghentikan larinya.aku memasang wajah serius menatap mbak sari yang dengan jelas menanti jawaban dariku.
"mau tau aja atau mau tau banget?"jawabku selang beberapa detik kemudian di iringi suara tawa terbahakku yang mendapati mbak sari dengan muka serius menatap diriku menunggu jawabanku atas pertanyaannya.
lagi lagi aku meninggalkan mbak sari yang masih berdiri dengan wajah manyun mendengar jawabanku yang mencandainya.
"banget...banget...banget..."teriak mbak sari yang kemudian mengejar lariku.
"nanti malam akan ning kasih tau"jawabku sambil menjulurkan lidahku ke arahnya.
mbak sari tertawa terbahak melihat aksiku yang meledeknya.pagi itu kami tak menghiraukan tatapan beberapa mata yang tertuju pada kami atas tawa kami yang mungkin terbilang berlebihan buat mereka.
lantas apa yang membuat lia mengakiri hidupnya dengan sia sia?arghhhh biarlah itu menjadi rahasia bagi lia sendiri.
pikiranku menerawang,mengajakku menengok biduk masa lalu yang telah ku tutup rapat dalam memori otakku.sakit hati,kekecewaan,penghinaan,pengorbanan yang sia sia mengajarkanku banyak arti,dan sekarang aku tahu pesakitan adalah jembatan bagi diriku untuk menyebrangi kedewasaan ke tingkat yang lebih baik lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar