zikrullah n doa

Kamis, 04 Juli 2013

.:. Merah Jambu .:.

Lihatlah,
Malam mulai mengepakkan sayapnya
Ia telah menaklukkan sang jingga
Yang baru saja memamerkan keindahannya

Dan kaupun tahu,
Ini bukan masalah menang atau kalahkan?
Ini hanya perpindahan posisi
Yang telah di gariskan oleh SANG PENCIPTA
Dari siang...senja...lalu menjadi malam

Begitu juga dengan aku dan kau
Yang kemudian menjadi kita
Tapi tunggu dulu,
Ini bukan masalah hati
Dan kaupun tahu itu,
Melainkan sekumpulan cerita
Dari pertemuan,perkenalan,lalu menjadi persahabatan.

Indah bukan?
Laksana lukisan yang berdominan warna biru yang menggambarkan kedamaian
Dan aku suka!!!!
Tapi...
Sayang keindahan itu lenyap dalam sekejap
Saat kau mulai memaksa mengoreskan warna merah jambu ke dalam kanvasku
"Aku tidak mau"jawabku
"Aku maunya seperti itu"tegasmu

Kita mulai terseok,
Aku memilih diamku dan kau dengan tumpukan kecewamu
Tak ada lagi cerita...adu argumen...ataupun gelak tawa...
Senyap...
Duniaku duniaku dan duniamu duniamu...

Bisikku,
Maafkan aku yang tak pernah bisa memadukan merah jambumu ke dalam lukisanku

Senin, 01 Juli 2013

.:. Perlombaan Pertamaku .:.

"aku tak mau ke sana pak''ucapku sambil menangis.
"kenapa tho nduk?bukannya kamu malah senang bisa terpilih menjadi murid yang terbaik di sekolahmu untuk mewakili sekolahmu berlomba?"tanya bapakku sambil mendekat ke arahku.
aku terus menangis tanpa mempedulikan pertanyaan bapakku,aku sendiri tak tau kenapa aku begitu takut pergi ke tempat itu.bukannya aku kemarin sudah ke sana.bukannya aku sudah besar.bukannya aku sudah saatnya belajar pergi kemana mana sendiri tanpa pengawasan orang tua.tapi kenapa rasa takut dan rasa minder selalu menghantui setiap langkahku.
"apa kamu takut bukan yang terbaik nantinya?atau ada teman yang mengolok olok kamu nduk?"tanyanya sekali lagi kepadaku.
aku menatap wajah bapakku sambil menggelengkan kepalaku,
"lantas apa yang membuatmu tak mau ikut lomba?seharusnya kamu bangga nduk bisa terpilih untuk mewakili sekolahmu berlomba di tempat itu.banyak anak anak lain yang ingin seperti kamu tapi tak berkesempatan.ingat nduk dalam perlombaan kita memang di wajibkan untuk berusaha menjadi yang pertama yang di sebut pemenang tapi kamu juga harus berlapang dada jika memang tidak bisa menjadi yang pertama yang terpenting modal utama adalah ikut berlomba,berusaha dan do'a.menang atau kalah itu sudah hal yang biasa dalam sebuah perlombaan"tambah bapakku kemudian,
"bukan soal itu pak"
"lantas kenapa nduk?"
"aku takut pulang naik angkot sendiri pak"jawabku lirih sambil menghapus airmata yang jatuh ke pipiku.bapakku tertawa mendengar jawaban dariku,dia mendekat ke arahku dan mengelus ngelus rambutku. aku hanya menunduk sambil mengusap sisa sia airmata di sekitar pipiku.
"nduk...apa yang kamu takutkan kalau naik angkot sendiri,kan kemarin udah naik angkot sendiri dan kamu juga pulang dengan selamat kan baik baik aja?"tanya bapakku menyelidik."apa perlu bapak buatin oncor atau bawa senter biar gak takut lagi?"tambahnya menggoda.
Ya,ucapan itulah yang selalu bapakku lontarkan di kala  aku mengeluh takut,karna dia tahu aku paling takut di tempat yang gelap.tapi kali ini bukan itu yang ku takutkan.bukan tempat yang gelap tapi keisengan keisengan kakak kakak laki laki yang sering nongkrong di tempat angkot.
"bapak...ngoda mulu,,,"jawabku sambil merajuk dan memukul mukul ringan tangan bapakku.bapakku tertawa sambil mencoba menghindar dari pukulanku.ku lihat dia berjalan menuju ke arah meja dan mengambil secangkir kopi lalu meneguknya sambil menatap ke arahku.
"kamu udah gede,gak usah takut gak usah malu gak usah minder"
"iya nduk gak usah takut atau begini saja biar besok bapakmu yang jemput kamu ke tempat perlombaan kamu,nanti uang transportasi yang sekolahan berikan ke kamu biar bisa kamu tabung"ibuku yang sedari tadi sibuk menyelesaikan jahitan baju akhirnya angkat bicara dan membujukku.
Aku diam sejenak mencoba membayangkan jarak rumahku dengan tempatku berlomba.dan itu merupakan bilangan jauh menurut perhitunganku sedangkan bapak tidak punya sepeda motor apa mungkin naik angkot,atau jangan jangan naik sepeda pancal seperti biasanya,bukanya aku malu jika bapak menjemputuku dengan sepeda buntutnya tapi aku hanya merasa kasihan jika beliau harus menaiki sepeda itu ke tempat yang cukup jauh,di tambah lagi pulangnya harus memboncengku.
"kok malah diam,bagaimana setuju gak ma tawaran ibu"tanya ibuku membuyarkan lamunanku.
"tapi kan jauh bu...memangnya mau naik apa jemputnya"
"naik sepeda bapakmu tuh"jawabnya sambil menunjuk ke arah sepeda yang di senderkan tak jauh dari tempat kami berbincang.
"tuh kan benar dugaanku"bisikku dalam hati.
"tapi kan jauh bu...nanti bapak capek."
"gak apa apa besok bapak pulang dari sawahnya lebih awal biar bapak yang jemput kamu aja supaya kamu gak takut da tetep mau ikut berlomba"
"tapi kan jauh pak..."bantahku sekali lagi.
bapak tersenyum ke arahku lalu meneguk kembali secangkir kopi yang berada di tangannya.
"yang penting kamu tetap ikut lomba nduk,apa artinya capek buat bapak kalau anak bapak adalah anak yang pintar"ucapnya kemudian.
aku tersipu malu mendengar ucapan bapak,ku lihat ibu tersenyum ke arahku lalu duduk di sampingku dan mengelus rambutku.
"kami bahagia dan bersyukur punya anak pintar sepertimu nduk"ucapnya kemudian.
"aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kalian pak bu"

***

Kamis, 04 Juli 2013

.:. Merah Jambu .:.

Diposting oleh Nayla Ahebich di 07.37 0 komentar
Lihatlah,
Malam mulai mengepakkan sayapnya
Ia telah menaklukkan sang jingga
Yang baru saja memamerkan keindahannya

Dan kaupun tahu,
Ini bukan masalah menang atau kalahkan?
Ini hanya perpindahan posisi
Yang telah di gariskan oleh SANG PENCIPTA
Dari siang...senja...lalu menjadi malam

Begitu juga dengan aku dan kau
Yang kemudian menjadi kita
Tapi tunggu dulu,
Ini bukan masalah hati
Dan kaupun tahu itu,
Melainkan sekumpulan cerita
Dari pertemuan,perkenalan,lalu menjadi persahabatan.

Indah bukan?
Laksana lukisan yang berdominan warna biru yang menggambarkan kedamaian
Dan aku suka!!!!
Tapi...
Sayang keindahan itu lenyap dalam sekejap
Saat kau mulai memaksa mengoreskan warna merah jambu ke dalam kanvasku
"Aku tidak mau"jawabku
"Aku maunya seperti itu"tegasmu

Kita mulai terseok,
Aku memilih diamku dan kau dengan tumpukan kecewamu
Tak ada lagi cerita...adu argumen...ataupun gelak tawa...
Senyap...
Duniaku duniaku dan duniamu duniamu...

Bisikku,
Maafkan aku yang tak pernah bisa memadukan merah jambumu ke dalam lukisanku

Senin, 01 Juli 2013

.:. Perlombaan Pertamaku .:.

Diposting oleh Nayla Ahebich di 20.54 0 komentar
"aku tak mau ke sana pak''ucapku sambil menangis.
"kenapa tho nduk?bukannya kamu malah senang bisa terpilih menjadi murid yang terbaik di sekolahmu untuk mewakili sekolahmu berlomba?"tanya bapakku sambil mendekat ke arahku.
aku terus menangis tanpa mempedulikan pertanyaan bapakku,aku sendiri tak tau kenapa aku begitu takut pergi ke tempat itu.bukannya aku kemarin sudah ke sana.bukannya aku sudah besar.bukannya aku sudah saatnya belajar pergi kemana mana sendiri tanpa pengawasan orang tua.tapi kenapa rasa takut dan rasa minder selalu menghantui setiap langkahku.
"apa kamu takut bukan yang terbaik nantinya?atau ada teman yang mengolok olok kamu nduk?"tanyanya sekali lagi kepadaku.
aku menatap wajah bapakku sambil menggelengkan kepalaku,
"lantas apa yang membuatmu tak mau ikut lomba?seharusnya kamu bangga nduk bisa terpilih untuk mewakili sekolahmu berlomba di tempat itu.banyak anak anak lain yang ingin seperti kamu tapi tak berkesempatan.ingat nduk dalam perlombaan kita memang di wajibkan untuk berusaha menjadi yang pertama yang di sebut pemenang tapi kamu juga harus berlapang dada jika memang tidak bisa menjadi yang pertama yang terpenting modal utama adalah ikut berlomba,berusaha dan do'a.menang atau kalah itu sudah hal yang biasa dalam sebuah perlombaan"tambah bapakku kemudian,
"bukan soal itu pak"
"lantas kenapa nduk?"
"aku takut pulang naik angkot sendiri pak"jawabku lirih sambil menghapus airmata yang jatuh ke pipiku.bapakku tertawa mendengar jawaban dariku,dia mendekat ke arahku dan mengelus ngelus rambutku. aku hanya menunduk sambil mengusap sisa sia airmata di sekitar pipiku.
"nduk...apa yang kamu takutkan kalau naik angkot sendiri,kan kemarin udah naik angkot sendiri dan kamu juga pulang dengan selamat kan baik baik aja?"tanya bapakku menyelidik."apa perlu bapak buatin oncor atau bawa senter biar gak takut lagi?"tambahnya menggoda.
Ya,ucapan itulah yang selalu bapakku lontarkan di kala  aku mengeluh takut,karna dia tahu aku paling takut di tempat yang gelap.tapi kali ini bukan itu yang ku takutkan.bukan tempat yang gelap tapi keisengan keisengan kakak kakak laki laki yang sering nongkrong di tempat angkot.
"bapak...ngoda mulu,,,"jawabku sambil merajuk dan memukul mukul ringan tangan bapakku.bapakku tertawa sambil mencoba menghindar dari pukulanku.ku lihat dia berjalan menuju ke arah meja dan mengambil secangkir kopi lalu meneguknya sambil menatap ke arahku.
"kamu udah gede,gak usah takut gak usah malu gak usah minder"
"iya nduk gak usah takut atau begini saja biar besok bapakmu yang jemput kamu ke tempat perlombaan kamu,nanti uang transportasi yang sekolahan berikan ke kamu biar bisa kamu tabung"ibuku yang sedari tadi sibuk menyelesaikan jahitan baju akhirnya angkat bicara dan membujukku.
Aku diam sejenak mencoba membayangkan jarak rumahku dengan tempatku berlomba.dan itu merupakan bilangan jauh menurut perhitunganku sedangkan bapak tidak punya sepeda motor apa mungkin naik angkot,atau jangan jangan naik sepeda pancal seperti biasanya,bukanya aku malu jika bapak menjemputuku dengan sepeda buntutnya tapi aku hanya merasa kasihan jika beliau harus menaiki sepeda itu ke tempat yang cukup jauh,di tambah lagi pulangnya harus memboncengku.
"kok malah diam,bagaimana setuju gak ma tawaran ibu"tanya ibuku membuyarkan lamunanku.
"tapi kan jauh bu...memangnya mau naik apa jemputnya"
"naik sepeda bapakmu tuh"jawabnya sambil menunjuk ke arah sepeda yang di senderkan tak jauh dari tempat kami berbincang.
"tuh kan benar dugaanku"bisikku dalam hati.
"tapi kan jauh bu...nanti bapak capek."
"gak apa apa besok bapak pulang dari sawahnya lebih awal biar bapak yang jemput kamu aja supaya kamu gak takut da tetep mau ikut berlomba"
"tapi kan jauh pak..."bantahku sekali lagi.
bapak tersenyum ke arahku lalu meneguk kembali secangkir kopi yang berada di tangannya.
"yang penting kamu tetap ikut lomba nduk,apa artinya capek buat bapak kalau anak bapak adalah anak yang pintar"ucapnya kemudian.
aku tersipu malu mendengar ucapan bapak,ku lihat ibu tersenyum ke arahku lalu duduk di sampingku dan mengelus rambutku.
"kami bahagia dan bersyukur punya anak pintar sepertimu nduk"ucapnya kemudian.
"aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kalian pak bu"

***

Template by:
Free Blog Templates